Senin, 06 Oktober 2014

(Tugas Kuliah) Etnometodologi

Etnometodologi


A.                              Pengertian

Studi tentang bagaimana individu-individu menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari mereka, cara mereka menyelesaikan pekerjaan didalam hidup setiap harinya.

Sehingga etnometodologi mempelajari realitas sosial atas interaksi yang berlangsung sehari-hari. Etnometodologi merupakan studi eksperimental khas penelitian kualitatif karena ia dapat meneliti bila terjadi penyimpangan pada aturan-aturan yang ada di masyarakat.

Subyek etnometodologi bukan warga suku-suku yang masih ‘primitif’ tetapi orang-orang dari berbagai situasi di dalam masyarakat kita.

Menurut Bogdan & Biklen (1982:37), pengertian Etnometodologi tidaklah mengacu pada suatu model atau teknik mengumpilkan data ketika seseorang melakukan suatu penelitian tetapi lebih memberikan arah mengenai masalah apa yang akan diteliti.

Sementara menurut W. Laurence Neuman dalam bukunya Social Research Methods, seorang etnometodolog menganalisa bahasa. Mereka mengasumsikan bahwa orang-orang “menyelesaikan” pengertian yang tidak masuk akal dengan menggunakan aturan-aturan sosial kultural dan interaksi sosial adalah sebuah proses dari konstruksi realitas.

Orang-orang mengintepretasikan kejadian sehari-hari dengan menggunakan pengetahuan kultural dan klue-klue dalam konteks sosial.

Etnometodologi mempelajari bagaimana orang biasa dalam kehidupan sehari-harinya  mengaplikasikan aturan-aturan yang tidak diucapkan  untuk membuat arti pada kehidupan sosial mereka.

Mereka juga mempelajari kehidupan sosial dengan teliti untuk mengindentifikasi aturan-aturan untuk merekonstruksi realitas sosial, bagaimana aturan-aturan ini digunakan, dan bagaimana sebuah aturan baru dibuat. Mereka biasanya menggunakan breaching experiments untuk mendemonstrasikan aturan tidak tertulis yang sederhana.
Sejarah Etnometodologi

Etnometodologi termasuk rumpun penelitian kualitatif yang beranjak dari paradigam fenomenologi.

Fenomenologi adalah ajaran filsafat kontemporer yang asumsi-asumsi dasarnya diletakkan oleh Edmund Husserl (1859-1938). Sebagai suatu epistemologi, fenomenologi menggunakan intuisi sebagai sarana untuk mencapai kebenaran.

Menurut Garfinkel, tokoh pencetus ide mengenai Etnometodologi, istilah ini muncul setelah ia membaca arsip studi lintas budaya di Universitas Yale yang memuat istilah-istilah seperti Ethnobotany, etnhophysics dan ethnoastronomy.

Ketiga istilah di atas mengenai masyarakat yang masih hidup terpencil telah mengenal kehidupannya dengan baik, mereka memiliki pengetahuan dan cara-cara menyelesaikan masalah dalam hidup mereka.


B.                          Etnometodologi dalam Penelitian Sosial

Menurut Thomas Santoso dalam tulisannya yang bertema Etnometodologi dan Kasus Beberapa Penelitian Sosial, etnometodologi pada dasarnya adalah ‘anak’ dari fenomenologi schutzian. Ia mengangkat reflective glance  (tengokan reflektif) yang dianggap penting oleh Schutz dalam memberikan makna bagi perilaku dalam investigasi sosiologis.

Garfinkel berusaha mengarahkan studi empiris dalam aktivitas sehari-hari yang sifatnya umum dan rutin. Menurutnya cira utama etnometodologi adalah kekhasan reflektifnya. Ini berarti bahwa cara orang bertindak dan mengatur struktur sosialnya sama dengan prosedur pemberian nilai terhadap struktur tersebut.  Memberikan penilaian adalah merefleksi pada perilaku dan berusaha membuatnya jadi terpahami atau bermakna bagi seseorang dan orang lain.

Upaya memahami dan mendeskripsi perilaku nyata suatu kelompok masyarakat  sebenarnya telah dilakukan oleh seorang antropolog Malinowski (1922) dalam studi etnografi.  

Dalam etnometodologi, penelitian bukanlah merupakan usaha ilmiah yang unik  melainkan lebih merupakan penyelesaian praktis. Para peneliti menyarankan agar kita melihat secara hati-hati  pada pengertian akal sehat tempat pengumpulan data dilakukan. Penekanan etnometodologi adalah bekerja secara kualitatif, menangguhkan asumsi akal sehat dan lebih menggunakan pandangan sendiri.

Etnometodologi memang pada umumnya mempelajari interaksi sosial sebagai proses yang terus menerus. Studi ini banyak mengkhususkan diri pada analisis percakapan atau analisis wacana namun ada juga yang melibatkan interaksi non verbal.

Teknik pengumpulan data utama dalam etnometodologi adalah observasi.

Beberapa contoh penelitian etnometodologi bisa dilihat dalam tulisan Oscar Lewis mengenai Kisah lima keluarga. Telaah-telaah Kasus Orang Meksiko dalam Kebudayaan Kemiskinan, yayasan obor, 1988 yang mendeskripsikan  kehidupan sehari-hari keluarga miskin serta keluarga orang kaya baru di Meksiko.

Lewis menguraikan pengalaman hidupnya tinggal bersama keluarga-keluarga tersebut baik dari sisi sosiologis, psikologis dan antropologis.

Adapula penelitian Thomas Santoso mengenai Perilaku Kerja Pialang Tembakau: Studi komperatif tentang perilaku kerja orang Madura dan Orang Cina di Madura yang diterbtkan Unair, 1994. Ia menggambarkan kehidupan sehari-hari dua keluarga madura dan tiga keluarga cina.

Dalam contoh penelitian garfinkel sendiri sebagai penemu etnometodologi (1967) yang mengupas dengan sangat rinci kasus seorang pemuda yang mengganti kelaminnya menjadi seorang wanita. Garfinkel menceritakan bagaimana proses awal hingga dilakukan perubahan itu. Bagaimana mengubah peran dan teman baru  termasuk bagaimana pertama kali tidur sekamar dengan wanita lain.

Dalam konteks komunikasi, penelitian etnometodologi bisa dilakukan bila kita ingin


C.                          Keunggulan & Kelemahan Etnometodologi

Keunggulan:
1. Longitudinal
    Sebagai suatu metode observasi yang sedang berlangsung,
    etnometodologi dapat merekam perubahan-perubahan apa yang terjadi
    dan tidak harus menyandarkan diri pada ingatan partisipan.
2. Perilaku verbal dan non verbal dipelajari dalam etnometodologi
3. Memberikan suatu pemahaman tentang bagaimana responden menyadari
    atau merasa benar-benar dalam keadaan sadar dan mengerti terhadap 
    kegiatan penelitian dan bagaimana mereka menjawab pertanyaan yang 
    ada.
4. Etnometodologi memberikan suatu pemahaman tentang kekonsistenan
    Reliabilitas

Kelemahan:
Untuk studi skala luas atau sikap masyarakat dalam skala besar lebih cocok dengan menggunakan metode survey dibandingkan etnometodologi.



D.                          Kesimpulan

Etnometodologi berasal tiga kata Yunani, Etnos yang berarti orang, Metodos yang berarti metode, dan Logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah etnometodologi adalah sebuah studi atau ilmu tentang metode yang digunakan oleh orang awam atau masyarakat biasa untuk menciptakan perasaan keteraturan atau keseimbangan didalam situasi dimana mereka berinteraksi.

Etnometodologi (ethomethodology), berarti “metode” yang digunakan orang dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. Bila dinyatakan secara sedikit berbeda, dunia dipandang sebagai penyelesaian masalah secara praktis secara terus-menerus. Manusia dipandang rasional, tetapi dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan “penalaran praktis”, bukan logika formula.
Sasaran sentral kajian etnometodologi adalah menganalisis penalaran sosiologis praktis dan melaluinya aktivitas sosial diatur dan dijelaskan. Etnometodologi mencari tahu bagaimana hal itu dikerjakan. Karena itu nama ologi (studi mengenai), ethno (orang-orang) method(metode) guna menciptakan keteraturan sosial.

Fenomenologi adalah ilmu berorientasi untuk dapat mendapatkan penjelasan tentang realitas yang tampak. Fenomena yang tampak adalah refleksi dari realitas yang tidak berdiri sendiri karena ia memiliki makna yang memerlukan penafsiran lebih lanjut.
Tujuan etnometodologi adalah mencari dasar yang mendukung terwujudnya interaksi social.


Daftar Pustaka

Nasional, 1992.
George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Cet.IV, Jakarta, Kencana, 2011




http://didanel.wordpress.com/2011/06/22/teori-fenomenologi-dan-etnometodologi/



  

0 komentar:

Posting Komentar