101020142331
Celoteh
Roo
Tuan
Tanpa Tangan
“Pak!”.
Ucapku sambil memberikan sampah penuh makna baginya untuk memanggil salah satu
tokoh hidup penuh juang pada ‘Tuan Tanpa Tangan’. “Nyampe Cikupa itu orang
jalan kaki kesini (*cikokol) ya begitu nyari botol bekas terus ntar dipungut
pake kakinya”. Celetuk si sopir angkot dengan nada kagum ke ‘Tuan Tanpa
Tangan’. “Hehe orang-orang kaya gitu mah ga gampang nyerah”. Ucap salah satu
penumpang di angkot yang sedang ku tumpangi. “Yang normal aja malah ngeluh
mulu”. Kata ku membalas.
Oh Pak! Maaf hanya
sebotol bekas minumku saja yang bisa aku berikan, mengingat ‘materi’ yang aku
punya, uang maksudku, tiris sekali Pak.. hanya cukup buat ongkos angkot Pak...
padahal yang Kau beri untuk-ku merupakan salah satu ilmu mahal.. ‘ILMU
MENGHARGAI HIDUP’.
Pak! Malu rasanya
mengingat diri pendosa dan pengeluh ini seringkali kurang bersyukur akan hidup.
Tetapi Kau Pak...
Berjalan menyusuri tanah Tangerang demi mengumpulkan pundi-pundi pemuas materi
dunia.. perak demi perak Kau kumpulkan... Tak peduli fisik kurang lengkap mu Kau
berkeliling sambil secara tidak langsung menunjukan makna “HAI! LIHAT AKU!
SYUKURI HIDUPMU! TAK SEHARUSNYA... SUNGGUH! TAK SEHARUSNYA KAU BERKELUH DAN SOK
MEMELAS PADA SEMESTA LALU MENYERAH AKAN HIDUP! JANGAN! JANGAN! JANGAN KAU
MENYEPELEKAN HIDUPMU DENGAN MEMBIARKAN ‘KURANG BERSYUKURMU’ MENGGELAYUTI
HIDUPMU! KAU LENGKAP BUKAN??? KAU TAK BOLEH KALAH DARI KU! WAHAI MANUSIA
DUNIA!!!”
Ku tengok hari ini...
sakit, keluh dan apapun yang Kau rasa kurang tak bisakah Kau lengkapi dengan
BERSYUKUR sabarlah menanti... yakin InsyaAllah sungguh pasti Allah akan
memberikan “AWARD TERPATUT” untuk mu kelak di mana itu seharusnya teramat
sangat layak Kau dapatkan...
Wahai Pak Tuan Tanpa
Tangan semoga kelak barokah mu Kau dapati penuh... Aamiin Yaa Robbal
Aalamiin...
Dan untuk Bapak Tercinta ku baik-baiklah Kau di bumi Kalimantan sana yah! Jangan lupa lima waktunya... Maafkan aku Pak.. Aku masih belum berguna untuk Mamak Bapak dan Dwiki... Maaf..
0 komentar:
Posting Komentar