Rabu, 05 Oktober 2016

Soal Nyari-nyari

Akhir- akhir ini, tepatnya semenjak saya menjdi mahasiswa. Ada banyak pencarian yang ‘agak’ konyol yang saya cari tau. Jurusan kuliah yang saya pilih membawa saya pada setiap keingin tahuan yang semakin besar tentang persoalan pusaran idealisme. Kompleksitas pencarian saya makin dalam saat saya mengikuti salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus tempat saya bernaung ilmu.

Ada banyak kewajiban yang harus saya lalui sebelum saya benar-benar menjadi ‘insan’ yang sesuai dengan UKM yang saya ikuti, yaitu pelatihan. Saat masa pelatihan ada sebuah materi dimana saya dan teman-teman saya diarahkan agar berpikir kritis. Materialisme Dialetika Historis. Tuhan! Materi macam apa ini! Saya tidak dapat meraihnya! Pusing!.

Ampuni saya! Saya bukan hanya meyerap apa yang disampaikan dalam materi tersebut.  Saya ikut tenggelam untuk mempertanyakan, siapa dia(laki-laki)?. Yep otak saya dipenuhi dengan pertanyaan  soal identitas pemateri yang menyampaikan materi ini. Lebih-lebih saya merasa tidak pernah melihatnya di kampus saya. Sudah seperti automatically system bagi diri saya untuk menerka siapa lawan interaksi saya dengan cukup mendalam.

 Yah ini persoalan kesan pertama untuk keberlanjutan interaksi sosial yang akan saya jalin dengan anggota UKM yang saya ikuti.  Setelah mengikuti segala macam’ ritual’ keanggotaan baru. Resmilah kehidupan saya berputar pada jaring perkuliahan, pekerjaan dan keorganisasian.

 Jangan lupa saya masih ‘kasmaran’ dengan sosok itu. Oh hey! Tak saya pungkiri bahwa pesona retorikanya cukup mumpuni! Tapi ya saya masih menimbang, mengambang pada batas rasa penasaran, untuk apa segala yang telah ia lakukan sampai sejauh ini?  

Setelah berteman atau selintas kenal dengan insan-insan organisator internal maupun organisator eksternal di kalangan kampus. Beberapa diantara mereka banyak yang kurang bisa mengatur waktunya untuk tetap aktif berkuliah. Beberapa diantara mereka, seringkali absen kuliah. Beberapa diantara mereka, membuat diri saya menciptakan spekulasi bahwa mereka sudah terlena dengan formalitas yang seharusnya. Perkuliahan. Dari situlah saya bertanya-tanya, untuk apa mereka sampai seperti itu?.

Jaring ini membawa saya pada pengertian bahwa keanggotaan kita dalam dalam suatu , naluriah karena kita selalu butuh pengakuan. Hal ini jugalah senada di-amin-kan oleh Abraham Maslow.  Semacam kebutuhan menyadari dahaga. Pengakuan atau eksistensi begitu dipuja macam kebutuhan pokok manusia. Mahasiswa apatis dan mahasiswa aktif organisasi jelaslah sangat berbeda karakternya. 

Fenomena yang saya tangkap dari mereka yang aktif berorganisasi adalah ingin ‘famous’, ingin mencari pengalaman dengan sekedar mengisi waktu luang dan yang lebih kurang berpendirian adalah fenomena followers (‘ikut-ikutan’ teman).

Makin dalam saya menyelami lingkungan baru saya. Aduh makin besar tanya yang tergantung di otak saya. Terlebih organisasi yang saya ikuti mengharuskan para anggotanya untuk berpikir kritis. Pers kampus.

Keadaan ini membawa saya pada jaringan pertemanan yang lebih luas. Kini saya tiba dimana saya benar-benar "sungguh mati aku jadi penasaran". Kiprah yang mereka lakukan kadang tak sebatas 'ngopi bareng' atau diskusi seputar perkuliahan. Yah sudah sewajarnya memang bilamana kita sebagai mahasiswa menjalankan fungsi mahasiswa sebagaimana mestinya. Tapi perlakuan saling 'gesek', dendam kesumat, adu mulut (yang bagi saya kurang berarti dan lain-lain yang diluar nalar mahasiswa apatis, mereka lakukan adalah untuk apa?.

Terkhususfenomena mahasiswa abadi. Pasti pemandangan seperti itu suda tak asing lagi di sekitar kelas Universitas. Ada satu jawaban terurai dari mulut salah seorang senior MA yang saya kenal (syukurlah kali ini, tahun ini dia wisuda^^) ia bersabda bahwa ia adalah penikmat ilmu. Anggaplah masuk akal. Sudahlah anggaplah seperti itu. Sebab apa?

Sebab salah satu fans saya, pernah pula saya ajukan pertanyaan macem itu, " Untuk apa lu sampai sejauh ini?"begini persis obrolan kami :

Buat apa sampe harus sejauh ini? Gue tuh ga ngerti muara kalian yang sampe sejauh ini, itu untuk apa. Oke gue cetek. Dan oke gue bakal tanya. Kenapa lu ikut HMI?

Ya gue tau Kalla dan beberapa petinggi negeri banyak yang dulunya HMI atau GMNI atau bla bla bla.

Kalo gue nganggepnya ini buat biar kalian bisa masuk parpol apa salah?

-Centang biru menandakan bahwa ia telah membaca pesan saya-

HMI himpunan mahasiswa Islam..
Setiap kader mempunyai tujuan yg berbeda beda.. tapi HMI bergerak salah satunya berdasarkan independensi nya dan ada tingkat tingkatannya.. gua disini belajar mencari ilmu sebanyak banyaknya selagi gua muda dan sebagai mahasiswa..
Ga ada kaitannya dengan parpol, Jusuf kala itu hanya alumni itu hak mereka jika memang ingin masuk parpol dan masih banyak yg lainnya.

---Maaf saya tidak bisa menunjukan semua rekam pesannya, dikarenakan ada urusan hati yang ia siratkan dalam obrolan tersebut---

Sampailah saya pada suatu kesimpulan. Baik tingkat pelajar atau mahasiswa. Umur kami membawa kami ke dalam banyak pencarian. Apa yang saya tulis juga merupakan salah satunya kan? Dan! Kini setelah tentang segala pencarian saya. Ada tiga hal baru yang saya tahu tentang dunia ini.

1. Jalan yangbenar
2. Jalan yang salah
3. Jalan yang pantas


Baiklah. Persoalan laki-laki pemateri itu? Yang saya tahu dia adalah sama seperti seorang pencari. Kabarnya ia sedang membuat pergerakan. Dia berada di jalan mana? Ia berada di jalan yang ia yakini entah salah, benar atau pantas?. Kita selalu berjalan diatas keyakinan bukan?. Tulisan ini terkesan apatis. Perkenalkan, saya mahasiswa apatis yang sedang berusaha kritis. 

0 komentar:

Posting Komentar