Akhir- akhir ini, tepatnya semenjak saya menjdi mahasiswa.
Ada banyak pencarian yang ‘agak’ konyol yang saya cari tau. Jurusan kuliah yang
saya pilih membawa saya pada setiap keingin tahuan yang semakin besar tentang
persoalan pusaran idealisme. Kompleksitas pencarian saya makin dalam saat saya
mengikuti salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus tempat saya
bernaung ilmu.
Ada banyak kewajiban yang harus saya lalui sebelum saya
benar-benar menjadi ‘insan’ yang sesuai dengan UKM yang saya ikuti, yaitu
pelatihan. Saat masa pelatihan ada sebuah materi dimana saya dan teman-teman
saya diarahkan agar berpikir kritis. Materialisme Dialetika Historis. Tuhan!
Materi macam apa ini! Saya tidak dapat meraihnya! Pusing!.
Ampuni saya! Saya bukan hanya meyerap apa yang disampaikan
dalam materi tersebut. Saya ikut
tenggelam untuk mempertanyakan, siapa dia(laki-laki)?. Yep otak saya dipenuhi
dengan pertanyaan soal identitas pemateri
yang menyampaikan materi ini. Lebih-lebih saya merasa tidak pernah melihatnya
di kampus saya. Sudah seperti automatically
system bagi diri saya untuk menerka siapa lawan interaksi saya dengan cukup
mendalam.
Yah ini persoalan
kesan pertama untuk keberlanjutan interaksi sosial yang akan saya jalin dengan
anggota UKM yang saya ikuti. Setelah
mengikuti segala macam’ ritual’ keanggotaan baru. Resmilah kehidupan saya
berputar pada jaring perkuliahan, pekerjaan dan keorganisasian.
Jangan lupa saya
masih ‘kasmaran’ dengan sosok itu. Oh hey! Tak saya pungkiri bahwa pesona
retorikanya cukup mumpuni! Tapi ya saya masih menimbang, mengambang pada batas
rasa penasaran, untuk apa segala yang telah ia lakukan sampai sejauh ini?
Setelah berteman atau selintas kenal dengan insan-insan
organisator internal maupun organisator eksternal di kalangan kampus. Beberapa
diantara mereka banyak yang kurang bisa mengatur waktunya untuk tetap aktif
berkuliah. Beberapa diantara mereka, seringkali absen kuliah. Beberapa diantara
mereka, membuat diri saya menciptakan spekulasi bahwa mereka sudah terlena dengan
formalitas yang seharusnya. Perkuliahan. Dari situlah saya bertanya-tanya,
untuk apa mereka sampai seperti itu?.
Jaring ini membawa saya pada pengertian bahwa keanggotaan
kita dalam dalam suatu , naluriah karena kita selalu butuh pengakuan. Hal ini jugalah
senada di-amin-kan oleh Abraham Maslow.
Semacam kebutuhan menyadari dahaga. Pengakuan atau eksistensi begitu
dipuja macam kebutuhan pokok manusia. Mahasiswa apatis dan mahasiswa aktif
organisasi jelaslah sangat berbeda karakternya.
Fenomena yang saya tangkap dari mereka yang aktif
berorganisasi adalah ingin ‘famous’, ingin
mencari pengalaman dengan sekedar mengisi waktu luang dan yang lebih kurang
berpendirian adalah fenomena followers (‘ikut-ikutan’
teman).
Makin dalam saya menyelami lingkungan baru saya. Aduh makin
besar tanya yang tergantung di otak saya. Terlebih organisasi yang saya ikuti
mengharuskan para anggotanya untuk berpikir kritis. Pers kampus.
Keadaan ini membawa saya pada jaringan pertemanan yang lebih
luas. Kini saya tiba dimana saya benar-benar "sungguh mati aku jadi
penasaran". Kiprah yang mereka lakukan kadang tak sebatas 'ngopi bareng'
atau diskusi seputar perkuliahan. Yah sudah sewajarnya memang bilamana kita
sebagai mahasiswa menjalankan fungsi mahasiswa sebagaimana mestinya. Tapi
perlakuan saling 'gesek', dendam kesumat, adu mulut (yang bagi saya kurang
berarti dan lain-lain yang diluar nalar mahasiswa apatis, mereka lakukan adalah
untuk apa?.
Terkhususfenomena mahasiswa abadi. Pasti pemandangan seperti
itu suda tak asing lagi di sekitar kelas Universitas. Ada satu jawaban terurai
dari mulut salah seorang senior MA yang saya kenal (syukurlah kali ini, tahun
ini dia wisuda^^) ia bersabda bahwa ia adalah penikmat ilmu. Anggaplah masuk
akal. Sudahlah anggaplah seperti itu. Sebab apa?
Sebab salah satu fans saya, pernah pula saya ajukan
pertanyaan macem itu, " Untuk apa lu sampai sejauh ini?"begini persis
obrolan kami :
Buat apa sampe harus sejauh ini? Gue tuh ga ngerti muara
kalian yang sampe sejauh ini, itu untuk apa. Oke gue cetek. Dan oke gue bakal
tanya. Kenapa lu ikut HMI?
Ya gue tau Kalla dan beberapa petinggi negeri banyak yang
dulunya HMI atau GMNI atau bla bla bla.
Kalo gue nganggepnya ini buat biar kalian bisa masuk parpol
apa salah?
-Centang biru menandakan bahwa ia telah membaca pesan saya-
HMI himpunan mahasiswa Islam..
Setiap kader mempunyai tujuan yg berbeda beda.. tapi HMI
bergerak salah satunya berdasarkan independensi nya dan ada tingkat
tingkatannya.. gua disini belajar mencari ilmu sebanyak banyaknya selagi gua
muda dan sebagai mahasiswa..
Ga ada kaitannya dengan parpol, Jusuf kala itu hanya alumni
itu hak mereka jika memang ingin masuk parpol dan masih banyak yg lainnya.
---Maaf saya tidak bisa menunjukan semua rekam pesannya,
dikarenakan ada urusan hati yang ia siratkan dalam obrolan tersebut---
Sampailah saya pada suatu kesimpulan. Baik tingkat pelajar
atau mahasiswa. Umur kami membawa kami ke dalam banyak pencarian. Apa yang saya
tulis juga merupakan salah satunya kan? Dan! Kini setelah tentang segala pencarian
saya. Ada tiga hal baru yang saya tahu tentang dunia ini.
1. Jalan yangbenar
2. Jalan yang salah
3. Jalan yang pantas
Baiklah. Persoalan laki-laki pemateri itu? Yang saya tahu
dia adalah sama seperti seorang pencari. Kabarnya ia sedang membuat pergerakan.
Dia berada di jalan mana? Ia berada di jalan yang ia yakini entah salah, benar
atau pantas?. Kita selalu berjalan diatas keyakinan bukan?. Tulisan ini
terkesan apatis. Perkenalkan, saya mahasiswa apatis yang sedang berusaha
kritis.
0 komentar:
Posting Komentar