Jumat, 09 Februari 2018

Mencerna Logika Fana


Anita belum bisa pulang dari kantor? Udah makan belum?
-send to Anita-

Aku selalu resah bila sudah jamnya pulang kantor tapi anakku belum juga kunjung pulang. Anita adalah anak semata wayangku. Ia kebanggaanku, kesayanganku, segalanya bagiku. Sudah genap enam tahun ia menjalankan bisnisnya sebagai pengusaha kue-kue pastry. Terwujudlah keinginannya, menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Dia jelas jauh berbeda dengan aku, ibunya. Aku orang tua tunggal, tak pandai memasak seperti Anita. Ia mendapatkan bakat masaknya berkat ketekunannya dalam surfing mengenai pastry dari internet. Ya hanya dari internet.

Anita Calling…

“Assalamualaikum Ma aku sudah makan. Ini aku sedang dalam perjalanan,” kata anakku sebelum aku menjawab salamnya lewat ponsel.
“Yaudah ini masih di mana?”
“Aku udah di parkiran nih, mama mau aku bawain yang manis-manis atau yang gurih?”
“Mama mau kamu pulang cepat, istirahat, penuhi hak tubuhmu,”
“Siap kapten! Wassalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
-
Tiba di rumah aku terkaget, Anita langsung memelukku erat dari belakang. Entahlah, firasatku buruk soal pelukan ini.
“Ma aku sudah serahkan operasional toko pada Rina. Dia kepercayaanku. Nanti hasil penjualan akan tetap mengalir ke kita kok,”
“Hey, ada apa? Kenapa tiba-tiba?”
Anita kini berangsur duduk di sebelah sofa yang juga aku duduki.
“Nggak tiba-tiba kok Ma. Ingat waktu aku masih kelas 5 SD. Mama bacain aku cerita tentang negeri Kalinonya. Ya Aku mau kesana! Yeay!”
Aku terdiam,ada bingung bercampur geram terangkai dalam emosiku.
“Kalinonya itu khayalan An. Apa-apaan sih kamu ini.. Itu kan cuma dongeng, kamu mau cari apa? Dewa Kebajikan? Itu Cuma khayalan. Sama kaya mitologi dewa-dewi Olympus,”
“Nah kan pasti Mama respon begitu, Aku Dewi Surfing Maya Ma…. Aku udah searching selama 10 tahun lamanya, dan Mama tahu apa? Betul daerah itu ada di sekitar Selandia Baru,”

Aku masih mencerna. Aku menyesal dan mengutuk diriku akan kegiatan yang sering kami lakukan sebelum menjelang tidur. Dia memang Anita ku yang kekanak-kanakan. Tapi aku tak menyangka, ukuran realistis dia sebagai seorang wirausaha, ternyata itu semua hanya kamuflase penanganan diri yang dilakukan olehnya. Soal ini, berimajinasi, baru benar, bakatku menurun padanya. Tapi aku tak menyangka anakku segila ini. Anita masih diam memelototkan matanya, menunggu aku merespon ujaran gilanya.

“Mama ikut!” ujarku geram.
“Tidak, aku mau lihat dulu itu benar apa nggak. Nanti kalau benar aku ajak Mama kesana, okay. Besok aku berangkat, aku siap-siap dulu” Anita berkata sambil berlalu menuju kamarnya. Aku mengekor.

“Anita!” Ini adalah kemarahanku yang telah lama ku pendam semenjak perceraianku dengan Ayahnya Anita. Aku tak mau menyakitinya semenjak kejadian itu. Untungnya Anita bisa diajak bekerja sama. Dia memang tidak nakal atau pun berperilaku merugikan. Tapi ini adalah hal gila, aku berhak merah. Aku menyesal menjejalinya cerita-cerita dongeng keparat itu. Anita menghentikan langkahnya, berbalik ke arahku yang berada mengekor di belakangnya.
“Iya ma,” kata Anita nampak kaget. Jelas ini kemarahan pertamaku setelah kejadian miris itu.
“Mama pokoknya ikut! Lagian kamu ini gimana sih, itu cuma dongeng An kok kamu bisa bersikap seimpulsif ini sih,”
“Ma kalau pun mama ikut, itu bakal kepontang-panting keman-mana. Nggak jelas. Nanti kalau Kalinonya udah aku temuin, baru deh aku kontak Mama. Aku janji,”
“Nggak pokoknya. Mama mau ikut,”
“Nggak, aku larang. Mama kan alergi dingin, ke Bogor aja nggak kuat,”
Aku berpikir, betul juga. Entahlah aku selalu berpikir, aku harus sehat agar bisa hidup lebih lama dengan Anita. Alasannya aku terima, aku mengijinkannya. Dengan syarat…
“Kamu harus terus kontak Mama”
“Okay. Aku sayang Mama,” Anita mencium pipiku dan segera pergi ke kamarnya.
-
Kalinonya adalah dongeng karya penulis Armenia. Aku memang memiliki bnyak memiliki koleksi buku-buku tejemahan. Hampir tiap malam aku membacakan dongeng unuk anita. Aku menyukai aktivitas tersebut begitupun dengan Anita. Dalam dongeng yang aku bacakan untuk Anita, Kalinonya adalah sebuah negara yang dipimpin langsung oleh dewa kebajikan. Dalam cerita itu, Kalinonya diceritakan sebagai negara yang sangat makmur, rakyatnya hidup bahagia, negrinya indah, tidak ada kesedihan. Alam, hewan dan tumbuhan hidup berdampingan dengan rukun. Itu semua berkat dewa kebajikan. Di Kalinonya tidak boleh ada yang berbohong namun tanpa larangan tersebutpun rakyat Kalinonya memang sudah menjiwai hidup dengan jujur. 

Dewa Kebajikan begitu dicintai oleh rakyatnya, tampangnya yang rupawan. Membuat rakyatnya tak mampu menatapnya lebih lama. Namun yang terpenting adalah, Dewa Kebajikan selalu bersikap bijak. Dewa Kebajikan juga selalu berdiskusi dengan alam, hewan dan tumbuhan. Dewa kebajikan telah membagi-bagi pekerjaan rakyatnya dengan sangat cermat. Ada yang sebagai pengelola pertukaran barang dan jasa, ada yang berternak, ada yang berkebun, melaut  dan tukang masak serta pekerjaan lainnya sudah ditentukan berdasarkan perkiraan dari dewa kebajikan yang tak pernah meleset. 

Sebentar tukang masak? Aku baru ingat, di cerita tersebut ada seorang tukang masak yang selalu setia melayani Dewa Kebajikan. Dia adalah tukang masak jenis pastry. Astaga mengapa aku baru menyadarinya.

“Anita ada yang ingin aku tanyakan, apa kamu jatuh cinta dengan Dewa Kebajikan?” kataku sebelum melepas Anita untuk naik ke pesaawat, menuju ke Selandia Baru.
“Iya Ma,”
Aku termangu. Terperangah, seakan-akan ada petir menyambar diriku. Sial, aku tidak mengenal anakku sendiri. Aku merasa beribu-ribu menyesal telah menjejali anakku dengan dongeng-dongeng omong kosong itu.
“Aku pergi Ma, pesawatku sudah akan berangkat,”
“KAMU GILA AN! GILA!”
Anita ternyata ‘batu’ seperti diriku. Dia pergi berlari kencang menuju ke pesawatnya, sedang aku ditahan oleh petugas bagian tiket karena tidak bisa menunjukkan tiketku. Dan dianggap gila karena suadah bereriak-teriak memanggil Anita sekencang yang aku bisa.

Pada dongeng tersebut Dewa Kebajikan memang tidak pernah beristri. Sampai suatu saat ia menemukan salah satu juru masaknya, yang ia ketahui bernama Ann. Dewa Kebajikan menyukai semua pastry yang dibuat Ann. Sayangnya entah karena apa. Ann tiba-tiba menghilang saat dia akan diperistri oleh Dewa Kebajikan. 

Ada seorang pemberontak yang telah lama Dewa Kebajikan kurung di dalam Gunung Alcia. Pemberontak tersebut membenci kehidupan, Kalinonya yang seakan tiada warna. Baginya kebahagiaan di Kalinonya adalah sebuah kesalahan. Ia memberontak dengan cara mempengaruhi Rakyat Kalinonya agar mereka mau berbohong satu sama lain, dalam bersikap maupun bekerja. Sebelum pemberontak tersebut bertindak lebih jauh, Dewa Kebajikan segera menangkap pemberontak itu. Sebelum itu, pemberontak tersebut mengutuk Dewa Kebajikan, bagi siapa pun wanita yang ia cintai. Maka di hari pernikahannya, wanita tersebut akan hilang. 

Dewa Kebajikan pikir hal tersebut sudah tidak akan berlaku, megingat pemberontak tersebut telah terkubur di Gunung Alcia selama hampir ribuan tahun lamanya. Yang Dewa Kebajikan ingat adalah, pemberontak itu sempat mengatakan, Ann yang ia cintai baru akan lahir kembali di dunia baru. Hal tersebut berlaku karena di dalam keyakinan Kalinonya, kutukan akan termaafkan jika sudah masuk dalam tahun yang ke 8789 tahun di hari ke-62. Jadi inikah waktunya, mengapa bisa anak dari rahimku merupakan Ann?

.
.
.

Anita masih kontak denganku, sampai 7 bulan lamanya. Lepas itu, dia hilang. Aku pergi ke Selandia Baru meratapi, mencari Anitaku. Terlepas dari dongeng Kalinonya. Aku berpikir, Anita memang kabur karena muak hidup denganku. Tapi dari sisi manakah kesalahanku? Aku menyayanginya. Dia juga terlihat menyayangiku.
Piiiiip…
Bel pintu rumahku mengagetkanku.
Ada kurir?
“Benar ini rumah Ibu Rima Wijaya Kusuma?”
“Iya, dengan saya sendiri,”
“Silahkan tanda tangan tanda terimanya Bu Rima,”
Aku segera menanda tanganinya. Di bagian surat tersebut, tertulis surat itu tertuju dari Kalinonya. Aku sakit kepala. Aku seorang guru IPS, cukup paham sejarah dan geografi. Tak pernah kutemukan di bagian dunia mana pun ada negara bernama Kalinonya. Sebentar ini dari,,, Benar ini dari Anita ku. Ketika ku buka,aku melihatnya undangan pernikahan dan sepucuk surat rindu. Aku mencerna semua ketidak masuk akalan ini.



1 komentar: