Sabtu, 15 Desember 2018

Untuk Hidup 'Dianggap' Sarjana

Menjadi guru bukan sekedar A B C dan 1 2 3... - The Teachers Diary 2014
.
.
.
Blog ini macam rumah angker. Penghuninya terlalu banyak menghabiskan waktu tanpa mengabadikan hari-harinya lewat kata. Aku kembali Roo.. apakah kini aku sudah menjadi Flo? Belum, aku belum tahu. Mari ku ceritakan padamu, hidupku saat ini dan sejak bertahun-tahun kemarin.
.
.
.
Aku Anggun Tifani, telah banyak melalului hidupnya dengan banyak bekerja keras. Tak kusangka kegagalanku yang tak dapat berkuliah di PTN membawaku sejauh ini. Semester dua, aku bekerja sebagai admin di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kuliner. Yep, masih di Kota Tangerang. Bukan tempatku lahir, tapi merupakan tempatku ditempa sebagai manusia Anggun Tifani. Aku bekerja sebagai admin di semester 2. Memilih sebuah PTS yang tak begitu populer, mengharuskanku untuk bertahan menjadi mahasiswa, yang berjanji kepada orangtuanya bahwa kuliah, tak akan menjadikan pengeluaran mereka makin susah.

Pasca gagal SBMPTN, aku memaksa dan meminta agar orangtuaku mengizinkanku untuk kuliah. Disitupula aku berjanji, bahwa aku akan kuliah sambil bekerja.

Saat hari pertama kuliah, ku dapati temanku telah banyak yang menyambi bekerja di tempat-tempat yang dengan jabatan yang bagiku cukup parlente. Sementara aku saat itu masih pengangguran. Saat itu aku bertekad, bahwa aku harus mempunyai jabatan yang 'lumayan baik' ketika aku bekerja. Syukurlah, ku dapatkan pekerjaan sesuai bidang keilmuanku saat SMK. Senang rasanya mendapatakan perkerjaan sebagai admin, sebab aku kala itu bersaing dengan orang-orang yang sudah bergelar sarjana. Aku mendapatkan perusahaan yang begitu baik, mereka mendukung kegiatan perkuliahanku dengan mempekerjakan aku sebagai pekerja paruh waktu. Namun begitu aku mendapatakan gaji yang hampir setara dengan karyawan pada umumnya. Sayangnya langkahku harus terhenti saat aku begitu merasa seperti "Manekin Cantik". Aku bosan, dengan kegiatanku yang hanya sibuk menatap laptop, melakukan panggilan telepon, dan pekerjaan administrasi lainnya. Dulu memang aku enggan dengan jurusanku yang saat SMK dipilihkan oleh orangtuaku. Maka itu akhirnya, aku mengambil kuliah komunikasi. Untungya perjodohanku dengan jurusan komunikasi lancar. Maka berlawananlah saat itu pribadiku dengan pekerjaanku sebagai admin. Aku memutuskan keluar, sebab aku seringkali menangis karena batinku selalu berteriak. Lebih-lebih ketika aku telah mendapatkan seragam. Memang di kantorku saat itu, penggunaan seragam dianjurkan agar seperti tak ada sekat identitas pembeda antara pihak manajemen dengan pihak restoran. Sayangnya, seragam yang ada benar-benar tidak cocok dengan ke-aku-anku. Seragam yang ada membuat lekuk tubuh menjadi sangat nampak. Tubuhku jauh dari kata 'standard of beauty', tapi keyakinanku pada diriku menolak tata tertib itu. Aku tidak bisa menerimanya. Bahkan saat itu ada yang meledekku, dianggapnya aku tidak dewasa karena tak tau kewajiban dalam bekerja adalah mengikuti aturannya. Ya aku tahu, hanya saja untuk peraturan berseragam itu aku tidak bisa melawan keyakinanku soal caraku berpakaian. Oh ya soal mengapa aku masih bertahan dari awal, bahkan setelah aku tahu peraturan berseragam di sana. itu karena, aku butuh 'honor'nya, setidaknya untuk tabungan biaya semesterku. Aku memang naif. Hahaha. Terimakasih Mba Yuni dan Pak Yan

Pasca itu, aku menganggur, lantas mengingat cita-citaku saat kecil, yaitu menjadi seorang guru.
.
.
.
Liburan semester 3, aku gunakan waktu mengaggurku sebagai pencaker. Tak ada lamaran yang tembus. Lalu pada tahun ajaran baru tepatnya saat tahun ajaran 2015/2016, aku nekat melamar kerja di sebuah sekolah swata yang tak jauh dari kontrakan tempatku tinggal saat aku masih bersama mamak dan adikku di Tangerang. Setiap melamar kerja dengan cara datang langsung ke tempat yang dituju, aku selalu menunjukkan bakat sombongku. Seperti ini

Aku : Assalamualaikum Pak
Petugas piket : Waalaikumsalam, ada apa ya bu?
Aku : Bisa aya bertemu dengan kepala sekolahnya pak?
Petugas piket: Ada keperluan apa ya bu?
Aku : Saya mau melamar pekerjaan pak
Petugas piket: Sebentar ya bu

Dari percakapan itu, aku bertahan satu tahun ajaran dengan bekerja sebagai bendahara sekolah. Memang tidak bisa menjadi guru, tapi aku seringkali curi-curi kesempatan untuk mengambil jam kosong guru yang sedang tak bisa hadir dan sok-sokan mengajar di kelas. Bagian yang paling ku senangi adalah, aku seringkali bisa berbagi pengalamanku dengan mereka. Anak-anakku, Banyak hal menarik di sekolah itu, Saat tiap mau menghadaoi ujian smester ada saja orang tua yang memohon kepadaku agar anaknya dapat diberikan keringanan dan diperbolehkan untuk mengikuti ujian. Kadangkala ada yang sampai menangis  memohon kepadaku. Aku tidak bisa menuruti semuanya, yang ku bisa hanyalah mengakali bagaimana caranya anak-anak mereka yang belum melunasi pembayaran SPP, dengan cara membujuk kepala sekolah dan membuat perjanjian batas pembayaran. Aku juga mulai mendata mana murid yang layak mendapatkan bantuan pendidikan dari pemerintah. Aku kunjungi rumah mereka yang menjadi kandidatnya. Aku pahami juga anak-anak yang menjadi kandidat, adakah diantara mereka memang patut dan layak untuk mendapatkan bantuan. Persyaratan yang ku gariskan mudah saja, asal mereka rajin berangkat sekolah dan tak terlalu berulah. Ah itu adalah hari-hari yang berharga. Aku merindukan momen-momen itu. Bahkan baru-baru ini, Hari Guru tahun 2018, aku dikontak salah satu diantara mereka, Aku yang sudah tak dapat bekerja di sekolah, mendapatkan ucapan Selamat Hari Guru darinya dia mengirimnya lewat whatsapp setelah sebelumya, dia menyapaku lewat instagram yng jarang sekali ku buka. Begini sapanya padaku... https://www.instagram.com/p/BjHhqrnl0ic/ Terimakasih anak-anakku, Bu Farida, Bu Mirda, Bu Intan dan semuanya... laf

Kemudian semester berikutnya, Agustus 2016. Aku berpisah dengan keluargaku. Mamak dan Dwiki menyusul Bapak yang telah lebih dulu tinggal di Pangkalanbun, Kalimantan Tengah. Ini salah satu tahun yang berat. Selain aku harus berpisah, aku juga dihadapkan dengan pemilihan konsentrasi jurusan. Aku sebelumnya mengambil kuliah kelas sore, agar paginya aku bisa bekerja. Terpentok pada situasi dan kondisi seperti itu, membuat ku harus berpikir keras. Sebab konsentrasi jurusan yang aku mau, hanya membuka kelas pagi. Itulah yang menyebabkanku akhirnya melepas kesenanganku bekerja di sekolah kala itu. Aku berpikir, jarang ada perusahaan atau tempat bekerja yang aktif pada malam hari, kecuali bekerja di sebuah restoran atau paling kasar yang ku pikirkan adalah bekerja sebagai pelacur. Jelas untuk opsi terakhir itu aku blacklist. Itu pikiran konyol. Lalu aku teringat dengan pamanku yang membuka warung pecel lele, saat itu istrinya sedang hamil dan dirawat oleh mertua pamanku di kampungnya, Kediri. Ku bujuk mamak agar menawarkanku pada Paman yang kupanggil Le' Syafi'i. Selanjutnya ku lewati hari-hariku dengan tinggal sebagai anak rantau yang mengekos sambil bekerja membantu Le' berdagang, selama hingga lebaran dengan bekerja membantu Le' sampai sekitar Juli 2017. Terimakasih le'

November 2017
Aku beranikan diriku mengambil sebuah peluang lowongan kerja di sebuah koran lokal. Saat itu aku datang melamar pekerjaan di tempat itu dengan diantar oleh salah seorang kawanku. Tiap proses rekrutmen pegawai aku lewati, aku bekerja sebagai seorang Wartawan lingkup wilayah Kota Tangerang. Senangnya aku, ini juga pekerjaan impianku. Keinginanku menjadi wartawan makin timbul, sesaat setelah berdiskusi dengan seorang kawanku. Aku pikir benar, wartawan adalah seorang guru pula, guru dari segala informasi. Aku semangat bekerja. Aku senang impianku nyata adanya. Seperti kata Pramoedya Nanta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dewasa... Tidak ada sebuah tanggung jawab yang berjalan mudah tanpa sandungan. Aku dihadapi dengan ritme kerja yang menguras tiap hariku. Hidupku saat itu seperti hanya untuk bekerja. Kuliahku berantakan. Aku cukup sering izin karena mesti liputan menyelesaikan tugas dari kantor. IP-ku turun. Aku bukan bekerja sambil kuliah. Sudah ku tetapkan sejak awal, aku adalah puan yang kuliah sambil bekerja. Belum lagi hubungan jarak jauhku dengan keluargaku juga menjadi berantakan kala itu. Sebatas melakukan panggilan telepon rasanya sangat sulit saat itu. Terlebih aku akan segera dihadapkan dengan tugas penulisan skripsi. Aku pilih pergi. Terlebih ketika adikku memberitahu tentang Mamak yang kadangkala menangis saat panggilan telerpon darinya aku tolak, sebab aku sibuk bekerja. Ku pilih pergi. Anggap aku lebay, sumpah ditempat ini aku banyak ditempa layaknya seorang wartawan yang harus bertanggung jawab menyajikan tulisan yang baik untuk pembacanya. Terimakasih Pak Haji Agung, Pak Ipul, Pak Indra dan Mba Icha... laf

(This song)
https://www.youtube.com/watch?v=unNQ7cyFnNo&index=3&list=RDhxmoEvlOwEw

Maret 2018

Aku resign mulu ya ahhah, setelah itu aku bekerja di media online kepunyaan dosenku, dia baik sekali. Kerja di media online lokal cukup santai, aku bisa menyambi skripsiku pula. Bosku pun pengertian, dia tahu aku yang merupakan mahasiswanya harus juga konsentrasi pada skripsiku. Aku tak bisa melanjutkannya, karena satu dan lain hal. Tapi tetap, Pak Ukon, terimakasih atas segala bantuanmu..

Juni 2018
Selanjutnya, aku mendapatkan kesempatan bekerja di media online nasional. Hingga kini, sudah berjalan 6 bulan lamanya. Aku mempunyai atasan yang lagi-lagi super baik. Syukurlah belum pernah aku dalam bekerja memiliki atasan yang bossy. Belum genap bulan pertama aku bekerja di tempat ini, aku lulus skripsi hasilnya pun lumayan memuaskan. 3 November 2018, aku lulus kuliah. Kata Mamak, Bapak terus-menerus menangis sepanjang prosesi wisuda. Mungkin dia ingat selama ini kami semua bersinergi untuk selalu menjadi keluarga pekerja keras. Tak bisa  ku elak, meski aku bekerja, aku tetap membutuhkan suntikan dana untuk biaya hidup di sini. Sebetulnya kadang cukup dari gajiku, tapi memang adakalanya pula aku kekurangan dana. Maka dari itu, selama aku benar-benar jadi anak rantau aku mendapatkan kiriman bulanan dari mereka. Pasti dalam tangis bapak, bapak teringat saat-saat dia mesti mendorong gerobak sotonya mesti panas maupun hujan. Bapak tak pernah alpa dari tugasnya sebagai kepala keluarga. Bapak pekerja keras, Mamak yang penyayang dan lembut hatinya serta Dwiki yang rajin juga tekun beribadah adalah keluargaku yang sudah menemukan maknanya masing-masing. Aku kuat karena mereka. Oh ya tak lupa juga teman-temanku yang kusayangi. Tiwi, Sistiya, Kak Amanah, Mia, Nurul, Uzi, Sovi, Ira, Isty, Nida, Lisa, Irfan, Ai, Maya, Harnis, Kak Uwi,Tifa, Chyntia dan semuanya di kehidupanku sebagai Anggun Tifani hingga saat ini. Laf..

https://www.youtube.com/watch?v=8zPohxqf9uU&list=RDhxmoEvlOwEw&index=12

Sekarang kembali pada ungkapan pertama di tulisan awal, aku bukan pribadi yang tak konsisten. Sebenarnya, pemahamanku atas diriku adalah... impianku... ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Terdengar naif memang. Tapi aku ingin itu jadi nyata. Menjadi mahasiswa, guru dan jurnalis dari  segi tugas dan kewajibannya memang berbeda. Jika dipahami lagi apapun itu pergerakan kita sebagai insani, pastilah ada pertimbangan dari Illahi. Tidak akan kita diciptakan sebagai pribadi tanpa jati diri. Dia tak akan ingkar janji pada hamba-Nya yang giat mencari, lari untuk mimpi yang paling berani sebagai sang manusia yang manusiawi.





0 komentar:

Posting Komentar