Minggu, 07 Juli 2019

Yuk Bantu Wartawan Ciptakan Pers yang Manis tanpa over Clickbait


Kian hari banyak masyarakat di Indonesia yang mengeluhkan kinerja wartawan. Keluh masyarakat sejauh ini menjurus kepada fenomena pemberitaan, yang dikemas dengan bungkus clickbait headline. Strategi pengemasan berita dengan penggunaan clickbait headline atau umpan klik judul, dibuat sedemikian rupa untuk meningkatkan traffic pembaca. Adanya clickbait pada era pemberitaan media massa saat ini, diharapkan dapat mengundang khalayak agar lebih tertarik dengan berita yang disajikan.

George Loweinstein (1994) dalam teori curiosity gap menyatakan, celah informasi yang disebabkan oleh rasa penasaran membuat pembaca ingin mendapatkan kejelasan dan mengurangi ketidak pastian. Hal inilah yang menjadi motif universal pembaca untuk mengakuisisi suatu informasi dalam suatu artikel yang menggunakan clickbait headline (Rizky Kertanegara, 2018).

Teori curiosity gap menyebutkan, bahwa emosional seseorang dapat terpengaruh tanpa kita sadari. Ketika emosional seseorang telah terpengaruhi, seseorang akan secara tidak sadar akan membuka judul clickbait yang dibaca sekilas, cukup menarik perhatian. Saat seseorang membukanya karena terdapat rasa penasaran ketika membaca judul, yang terjadi kemudian adalah orang tersebut akan sadar bahwa isi dari berita tersebut tidaklah penting.

Apa yang menyebabkan media pemberitaan kita, khususnya media online saat ini mengedepankan clickbait daripada kualitas berita? Jawabannya ialah, dengan klik yang dilakukan pembaca, nantinya akan menjadi pemasukan bagi kebelangsungan sebuah media online. Fenomena clickbait disebabkan oleh adanya tuntutan bisnis baik redaktur maupun pemilik media. Clickbait diperlukan untuk menark perhatian pembaca agar traffic-nya menjadi tinggi (Frampton ,2015)

Pada sebuah berita yang dikemas dengan headline clickbait, nantinya akan membawa pembaca kepada iklan-iklan tertentu yang memang telah bekerjasama dengan media online. Di sinilah letak bikin ‘kzl’nya, Kadangkala, berita yang ingin dikonsumsi khalayak malah menjadi tidak terbaca karena hapir setiap teks berita ditutupi oleh iklan.

Tak hanya itu, jika pun memang ada ikon (x) atau close, yang kita harapkan dapat menutup iklan, malah membawa kita pada suatu tautan yang mengarah kepada website yang entah-berantah atau ‘ra mashok blaas’ . Sudah bersusah payah menghindari iklan, ternyata cobaan pembaca belum selesai, ketika berita habis dibaca, pesan pada berita seringkali tak masuk akal, tak cocok dengan headline yang ditawarkan. Bahayanya, kadangkala berita clickbait juga bisa mengarah ke hoaks, yang nantinya seringkali menimbulkan perselisihan paham di masyarakat.

Kasus pada foto sampul tulisan ini, ialah pemberitaan mengenai putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep. Melalui twitter pribadinya, Kaesang membagikan aktivitasnya, yang tengah belajar untuk mempersiapkan ujian. Cuitan itu pun dikomentari oleh Billy Boen yang merupakan seorang pengusaha. Billy menanggapi cuitan Kaesang dengan komentar “kok ngga lulus2?”. Komentar tesebut, kemudian ditanggapi Kaesang, dengan kalimat “SAYA KAN MASUK KE KULIAHNYA SUSAH , SAYANG KALO LULUS CEPAT”.

Melalui cuitan tersebut, entah ada angin segar darimana, kreatifitas redaksi detik.com, berinisiatif untuk menjadikan cuit-cuittaan tersebut sebagai produk jurnalistik alias sebuah berita ‘hot’. Selanjutnya, sebagai subjek yang dibicarakan, Kaesang memberikan respon atas pemberitaan tersebut. Putra bungsu Jokowi ini pun, menanggapi dengan cuitan “Saya gak ngerti @detikcom dapet info dari mana saya udah kuliah selama 6 taun. Udah gitu tempat saya kuliah juga salah lagi” kata Kaesang.

Tulisan tersebut pun ditanggapi oleh akun twitter Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Surabaya. Mereka menanggapi pemberitaan tersebut hanya sekadar memindahkan konten media sosial. AJI menganggap detik.com menghilangkan tahapan penting dalam jurnalisme, yaitu verifikasi dan konfirmasi. Dari berita tersebut, AJI memandang pemberitaan yang ditulis detik.com itu, tak ubahnya seperti media sosial bukan sebagai media massa.

Kembali kepada bahasan clickbait, penulis sebagai insan yang baru beberapa minggu ini redup dari dunia jurnalisme, sebetulnya mengetahui mengapa hal seperti itu bisa terjadi pada detik.com. Bukan hanya detik.com tapi juga media-media massa lainnya, yang saat ini dipatok sebagai sebuah perusahaan media, yang harus, wajib, kudu, fardhu untuk memproduksi berita yang mampu mengundang banyak klik dari pembaca,

Berdasarkan pengalaman penulis, seringkali masih penulis jumpai teman-teman wartawan yang saat proses peliputan atau penulisan, telah berupaya menulis headline berita yang sesuai dengan kode etik jurnalistik. Namun apa daya, kami yang di lapangan atau kami yang di redaksi, harus mematuhi perubahan zaman yang mempengaruhi regulasi ketentuan perusahaan. Singkat kata, media butuh makan yang banyak untuk menggaji karyawan. Darimana media bisa makan? Ya dari iklan. Dari klik yang dengan tidak sengaja diklik pembaca.

Semua itu harus dikemas sedemikian cantik, lewat kemasan berbungkus clickbait. Selain itu redaksi juga kepentok situasi harus berlomba-lomba ‘paling banyak’ dalam meproduksi berita. Hal itu dilakukan agar ‘menyenangkan hati klien pemasang iklan dan konglomerat media’, page view dari pembaca bertambah.

Pada situasi ini, pembaca merupakan sasaran utama dalam pembahasan pada tulisan ini. Sebagai sesama pembaca yang juga sempat menggeluti diri sebagai seorang wartawan, penulis ingin mengajak khalayak di Indonesia agar stop meng-klik berita clickbait. Stop membagikan atau share berita yang tidak sesuai hakikat jurnalistik yakni, menyiarkan informasi, menghibur, mendidik dan mempengaruhi.

Penulis pun di sini ingin mengakui dosa, sebagai insan pers, penulis juga pernah memproduksi berita clickbait. Namun ini semua kembali lagi pada situasi yang telah penulis jabarkan.  Penulis juga cukup prihatin dengan keadaan saat ini, seakan-akan hanya wartawan yang mentah-mentah bersalah.
Daripada mengutuk fenomena media massa saat ini sebagai tersangka, bagaimana jika antara wartawan, penulis konten, jajaran redaksi media massa serta ‘klien iklan’ dan kepada seluruh pembaca khalayak Indonesia, agar kita semua berupaya dan bersinergi menciptakan kondisi jurnalisme yang ideal.

Tanamkan kepada diri kita, bahwa sebuah berita haruslah memuat tulisan atau konten yang berkualitas. Mulailah membaca secara perlahan, membaca dengan menyeluruh bukan hanya sepintas. Akhir dari situ, selanjutnya bisa kita mulai dengan menjadi pembaca dengan kritis.

Lantas bagaimana dengan ihwal tuntutan bisnis jurnalistik, yakni iklan yang kadang tampil di seluruh bagian layar dan menutupi teks berita? Penulis yang juga sering duduk sebagai khalayak, biasanya mengakali ‘iklan’ tersebut dengan sebuah aplikasi ads block, agar otomatis bisa memblok iklan. Tapi tentunya, redaksi juga perlu digaji bukan. Untuk hal itu, setidaknya bisa diupayakan dengan menampilkan iklan yang ‘halus dan sewajarnya’. Tak perlu menutupi seluruh bagian teks berita.

Clickbait tak benar-benar bisa kita hindarkan, namun menjadikannya tidak terlalu over clickbait bisa jadi suatu upaya untuk menciptakan konten berkualitas. Setidak-tidaknya, harus ada upaya pembuatan konten yang tidak meninggalkan ‘ruh’ jurnalistik. Singkat kata, buatlah berita atau konten yang bermanfaat  sesuai dengan ‘rayuan’ yang ditawarkan judul.

Dari langkah-langkah tersebut, tak hanya berita clickbait, kiranya hoaks yang kerap menciptakan perpecahan di antara kita, bisa saja kita hindari. Sekiranya dari hal yang seringkali dianggap remeh ini, keadaan pers Indonesia kemudian dapat kembali kepada sebuah makna hakiki bangsa pada Pancasila sila ke-3, yakni Persatuan Indonesia, tanpa over cllickbait diantara kita.

0 komentar:

Posting Komentar