Kamis, 24 Desember 2015

Celoteh Roo - Mengapa Pendidikan?

Pendidikan merupakan tonggak utama, intisari bagaimana peradaban dunia dapat terus berkesinambungan dengan baik tertata manis sesuai pada tempatnya. Baik itu dimulai dari niat awal adanya pendidikan sampai pada tujuan mengapa pendidikan itu begitu teramat dibutuhkan. Mengapa pendidikan yang utama? Bukankah realitanya kekayaan akan harta dunia lebih mendominasi dalam segala bidang yang menyebabkan kesinambungan hidup dapat terharmonisasi lebih baik? Dalam kurung ekonomi adalah salah satu aspek paling global yang mempengaruhi segala macam tek-tek bengek kehidupan dunia. Tanpanya apa mungkin ada pendidikan gratis di Indonesia? Mbalik meneh ke duwek toh?.
Dalam hal ini memang bukanlah pendidikan jawaranya, tetapi ekonomi adalah kunci menuju next step. Coba kembalikan ini kepada asalnya? Bukankah ekonomi ada karena suatu didikan yang membuat manusia mesti berpikir bagaimana cara bertahan hidup? Ini melalui proses berpikir bukan? Dasar proses berpikir ini pastilah melewati pendidikan sebagai pintu pertamanya. Entahlah tapi itulah yang saya imani.
Pendidikan baik sebagai lembaga maupun sebagai aktivitas memusatkan peranya kepada pengoperan kebudayaan. Pendidikan berfungsi sebagai agent of social-reproduction atau sebagai transmision of culture. (Mohammad Noor Syam : 1983)
Budaya dalam perkembangannya selalu mengikutsertakan diri sebagai aspek penentu pengembangan berkelanjuta bagaimana jaman mesti adanya saat ini. Hubungan manusia terdidik dengan fungsi penciptaan kebudayaan adalah suatu manifestasi peranan, bahkan hasil pendidikan.
Jika dilihat dari semua sisi, sebenarnya bukan hanya sistem negara akan keberpihakan pendidikan yang sepenuhnya salah. Orang tua, mutu guru dan diri pribadi juga adalah artis yang ikut andil dalam carut-marutnya pendidikan di Indonesia.
Beginilah kami menjadi rakyat, jika ad yang salah dalam alur hidup bernegara pastilah pemerintah  yang langganan sasaran empuk rakyat. Jelas, mau bagaimana lagi, amanah membina, mengayomi dan menjaga kita telah disalahi mereka. Tapi mari kita coba berkaca pada masing – masing diri kita.
Oleh karena itu pembentukan karakter berkepribadian begitu teramat harus diagungkan di negeri ini. Kurikulum 2013 yang dalam setiap aspek pembelajarannya menekankan pendidikan karakter sepertinya jalannya banyak dipenuhi rintangan. Mengingat ternyata masih banyak juga  yang menggunakan KTSP 2006, hal ini jelas memberi pengertian bahwa solidaritas persatuan kita akan kemerdekaan satu idealis demi generasi kita selanjutnya begitu menyedihkan. Hal ini terjadi karena ternyata dalam praktiknya tidak semua guru benar-benar mempraktikan hal ini ke dalam mata pelajaran.
Salah seorang pemikir islam, Al-Ghozali pernah berkata bahwa budi pekerti itu akan kuat jika banyak di praktikkan, dipatuhi dan diyakini sebagai suatu yang baik dan direstui.
Banyak anak didik kita yang saat ini terbawa dalam dilema globalisasi yang arahnya memberi banyak makna tersirat. Mereka acuh dengan yang lalu dan tak mau ambil pusing peduli pada yang nanti. Yang mereka pedulikan hanya saat ini. Ini semua karena guru dan murid hanya sebatas “I say A you should say A too”. Anak didik kita tidak memiliki jiwa yang bebas untuk mengeksplor dirinya. Orang tua juga tidak menanamkan anak dengan benih-benih eksplorasi.Pendidikan bagi orang tua kebanyakan saat ini hanya dijadikan bahan gengsi “yang penting sekolah, punya ijazah.”  Pernah sutu kali saat ada guru yang sakit dan tidak dapat hadir dalam kelas saya putuskan untuk mengisi kekosongan kelas dengan mengobrol serius menanyakan kemanakah langkah mereka akan berlajut? SMA atau SMK? Ternyata miris, banyak dari murid akhir tahun SMP di tempat saya bekerja belum tahu kemana arah mereka selanjutnya.
Anak dari orang tua menengah ke atas atau yang sudah dikalangan atas rata-rata hanya dijejali fasilitas dunia dengan segela kemegahannya. Sedangkan yang menengah kebawah disuapi idealis sebatas “yang penting punya ijazah”.Peran masyarakat dalam membentuk lingkungannya dipenuhi pergerakan individualis.  Moral para elite politik kita kini riwayatnya begitu parah dan begitu kutang terkendali. Media, terutama televisi berlarian mengejar rating tanpa peduli cause and effect.
So? Harus bagaimana kita menanggapi diri dengan keadaan sosial culture yang masih terjebak dalam nostalgia ini?

0 komentar:

Posting Komentar