Pendidikan merupakan tonggak
utama, intisari bagaimana peradaban dunia dapat terus berkesinambungan dengan
baik tertata manis sesuai pada tempatnya. Baik itu dimulai dari niat awal
adanya pendidikan sampai pada tujuan mengapa pendidikan itu begitu teramat dibutuhkan.
Mengapa pendidikan yang utama? Bukankah realitanya kekayaan akan harta dunia
lebih mendominasi dalam segala bidang yang menyebabkan kesinambungan hidup
dapat terharmonisasi lebih baik? Dalam kurung ekonomi adalah salah satu aspek
paling global yang mempengaruhi segala macam tek-tek bengek kehidupan dunia.
Tanpanya apa mungkin ada pendidikan gratis di Indonesia? Mbalik meneh ke duwek toh?.
Dalam hal ini memang bukanlah
pendidikan jawaranya, tetapi ekonomi adalah kunci menuju next step. Coba kembalikan ini kepada asalnya? Bukankah ekonomi ada
karena suatu didikan yang membuat manusia mesti berpikir bagaimana cara
bertahan hidup? Ini melalui proses berpikir bukan? Dasar proses berpikir ini
pastilah melewati pendidikan sebagai pintu pertamanya. Entahlah tapi itulah
yang saya imani.
Pendidikan baik sebagai lembaga
maupun sebagai aktivitas memusatkan peranya kepada pengoperan kebudayaan.
Pendidikan berfungsi sebagai agent of
social-reproduction atau sebagai transmision
of culture. (Mohammad Noor Syam : 1983)
Budaya dalam perkembangannya
selalu mengikutsertakan diri sebagai aspek penentu pengembangan berkelanjuta
bagaimana jaman mesti adanya saat ini. Hubungan manusia terdidik dengan fungsi
penciptaan kebudayaan adalah suatu manifestasi peranan, bahkan hasil
pendidikan.
Jika dilihat dari semua sisi,
sebenarnya bukan hanya sistem negara akan keberpihakan pendidikan yang
sepenuhnya salah. Orang tua, mutu guru dan diri pribadi juga adalah artis yang
ikut andil dalam carut-marutnya pendidikan di Indonesia.
Beginilah kami menjadi rakyat,
jika ad yang salah dalam alur hidup bernegara pastilah pemerintah yang langganan sasaran empuk rakyat. Jelas,
mau bagaimana lagi, amanah membina, mengayomi dan menjaga kita telah disalahi
mereka. Tapi mari kita coba berkaca pada masing – masing diri kita.
Oleh karena itu pembentukan
karakter berkepribadian begitu teramat harus diagungkan di negeri ini.
Kurikulum 2013 yang dalam setiap aspek pembelajarannya menekankan pendidikan
karakter sepertinya jalannya banyak dipenuhi rintangan. Mengingat ternyata
masih banyak juga yang menggunakan KTSP
2006, hal ini jelas memberi pengertian bahwa solidaritas persatuan kita akan
kemerdekaan satu idealis demi generasi kita selanjutnya begitu menyedihkan. Hal
ini terjadi karena ternyata dalam praktiknya tidak semua guru benar-benar
mempraktikan hal ini ke dalam mata pelajaran.
Salah seorang pemikir islam,
Al-Ghozali pernah berkata bahwa budi pekerti itu akan kuat jika banyak di
praktikkan, dipatuhi dan diyakini sebagai suatu yang baik dan direstui.
Banyak anak didik kita yang saat
ini terbawa dalam dilema globalisasi yang arahnya memberi banyak makna
tersirat. Mereka acuh dengan yang lalu dan tak mau ambil pusing peduli pada
yang nanti. Yang mereka pedulikan hanya saat ini. Ini semua karena guru dan
murid hanya sebatas “I say A you should
say A too”. Anak didik kita tidak memiliki jiwa yang bebas untuk
mengeksplor dirinya. Orang tua juga tidak menanamkan anak dengan benih-benih
eksplorasi.Pendidikan bagi orang tua kebanyakan saat ini hanya dijadikan bahan
gengsi “yang penting sekolah, punya
ijazah.” Pernah sutu kali saat ada
guru yang sakit dan tidak dapat hadir dalam kelas saya putuskan untuk mengisi
kekosongan kelas dengan mengobrol serius menanyakan kemanakah langkah mereka
akan berlajut? SMA atau SMK? Ternyata miris, banyak dari murid akhir tahun SMP
di tempat saya bekerja belum tahu kemana arah mereka selanjutnya.
Anak dari orang tua menengah ke
atas atau yang sudah dikalangan atas rata-rata hanya dijejali fasilitas dunia
dengan segela kemegahannya. Sedangkan yang menengah kebawah disuapi idealis
sebatas “yang penting punya ijazah”.Peran
masyarakat dalam membentuk lingkungannya dipenuhi pergerakan individualis. Moral para elite politik kita kini riwayatnya
begitu parah dan begitu kutang terkendali. Media, terutama televisi berlarian
mengejar rating tanpa peduli cause and
effect.
So? Harus bagaimana kita menanggapi diri dengan keadaan sosial culture yang masih terjebak dalam nostalgia ini?
0 komentar:
Posting Komentar