Selasa, 29 Maret 2016

Cerpen - Aroma

Aroma


Ah! Syukurlah acara remeh-temeh kali ini bukan lagi paduan suara segerombolan tua atau drama putri salju dan tujuh kurcaci yang dimainkan oleh sekelompok anak kecil yang belum tahu getirnya kehidupan. Opera. Ya aku cukup tertarik dengan acara remeh-temeh kali ini! Opera si Cantik dan Si Buruk Rupa. Terdengar terlalu dongeng memang kisah ini, tapi entahlah aku menyukainya. Ketulusan. Kisah ini mengangkat sisi moral tentang bagaimanapun objek cintamu, apapun tentang cinta pasti kamu akan menjadi bodoh dibuatnya. Setelah kebodohan itu maka akan datang ketulusan yang entah mengapa mekar begitu saja tanpa permisi kala datang dan tanpa pamit ketika pergi, atau... karena memang sudah ‘Alur Tuhan’? Hahaha repot betul aku ini! Eh! Balet! Opera dan balet? Berasa orang elit betul kami mendapatkan hiburan macam ini. Ah! Kapan lagi aku dapet hiburan kelas VVIP seperti ini! Kali ini ‘remeh-temeh’ sosial itu diadakan di Alice Artpreneur. Berasa pengusaha dan penikmat seni kelas atas aku dapat berada di tempat ini. Beruntungnya panti rehabilitasiku mendapatkan kesempatan seperti ini. Ya ini bagiku, belum tentu bagi yang lain yang terlampau cuek bukan kepalang. Yaa... terkadang aku menjadi salah seorang bagian dari si ‘cuek’ itu. Tapi agenda kali ini, benar-benar membuatku antusias bukan main!. Entahlah mengapa, mungkin karena aku rindu akan minatku yang telah lama harus mati karena nasib berkata sedemikian itu.
Dulu sebelum aku aku mendapati kutukan aids ini. Aku adalah salah satu mahasiswa Institut Kesenian Jakarta. Aku mengambil jurusan teater kala itu. Ya... Syukurlah sembari aku menjalani rehabilitasiku ada salah satu stasiun jaringan televisi kabel yang mengontrakku untuk membuat naskah untuk proyek serial tv yang tayang seminggu sekali. Aku awalnya hanya seorang blogger yang menulis beberapa cerita di blog ku. Tapi karena ya kehebatan relasi yang dimiliki ayah keduaku Dokter Sofyan yang mengenalkanku ke stasiun televisi. Jadilah saat ini aku menjadi lebih ingin sembuh karena betapa baiknya Allah kepadaku. Buktinya aku masih bisa terus berkarya sesuai passionku walaupun bukan teater... Ah sungguh ini lebih dari cukup malah.
Dulu saat kudapati vonis ini, kedua orang tuaku teramat terpukul, bahkan sempat menyangka bahwa aku adalah seorang pecandu selain itu mereka pernah menyangka aku pernah melakukan free sex. Memang sempat beberapa undangan dari teman-temanku mengajakku untuk melakukan itu semua. Jakarta memang keras. Tapi, sungguh aku tak sekalipun pernah menerima apalagi mendatangi undangan mereka untuk bergabung dalam jerat lingkaran haram itu.
Penyakit ini bermula karena saat itu aku benar-benar sedang terburu-buru dan penampilanku dipaksa mesti rapih karena aku akan melaksanakan sidang proposal skripsi. Tak kupedulikan segalanya sampai akhirnya karena keteledoranku pisau cukur itu melukaiku. Dan  setelah ku telusuri dari mana aku dapatkan penyakit ini, itu karena ada darah yang masih membekas di pisau cukur Bayu.
Sungguh... benar-benar tidak kusangka ternyata sahabat karibku, Bayu, jatuh pada jurang metafora itu. Dia adalah panutanku. Segala bidang keorganisasian kampus ia geluti, keluasan ilmu pengetahuannya, kebijaksanaannya dan ah pantas saja ia jarang pulang ke kosan kami. Aku pikir memang ini karena sibuknya dia dalam berbagai organisasi ini itu. Bodohnya aku tak menyadari kealpaannya. Dokter memintaku untuk menelusuri apa yang pernah aku lakukan sampai aku kedapatan penyakit ini. 
Pertengkaran hebat itu mengungkap semuanya, saat itu aku menyatakan bahwa aku terkena HIV ya saat itu aku masih dalam tahap HIV, Bayu mengakui semuanya. Bayu benar-benar kacau saat ku ungkapkan bahwa aku terkena HIV. Ia tak henti-hentinya meminta maaf. Tapi apalah daya aku manusia biasa. Kumaki Bayu, kusesali mengapa aku mau bersahabat dengannya. Aku benar-benar diluap amarah kala itu. Baru kusadari bahwa Bayu memang sering mengingatkanku untuk jangan pernah memakai barang-barangnya seperti misalnya piring, gelas, sendok, garpu, pisau cukur, handuk dan lainnya. Aku kira itu karena ia adalah seorang perfeksionis atau “jijik-an” maksudku. Ya... Aku mengetahui bahwa aids  tidak akan tertular karena itu semua.
Huh... Kenyataan pahit ini memang tak kuasa kutelan mentah-mentah. Aku tahu hal ini juga bukanlah yang diingikinkan Bayu. Baru setelah kematiannya ku sadari mengapa Bayu menjadi seperti itu karena, ya alasan klasik... Broken Home. Maafkan aku, Bay... Aku benar-benar tak dapat diandalkan sebagai seorang sahabat. Padahal kamu teramat sering mendengar segalanya tentangku. Aku tahu hal seperti itu memang susah sekali ditemukan jalan keluarnya. Tapi mengapa mesti jebakan setan itu Bay? Narkoba memang memikat tapi sungguh kehidupan bahagia yang sebenarnya lebih memikat dan menarik untuk dijalani. Untuk apa bahagia sementara selagi kebahagiaan yang kekal akan kita dapatkan kelak? Kita hanya perlu bersabar. Mencari segala amunisi apa yang diperlukan untuk mendapatkan itu semua. Kuharap segala kebaikan menyertaimu Disana...
“Ayo Wildan ini saatnya menikmati opera gratis!” Ucapku menyemangati diri.
Sengaja aku duduk di barisan pertama di ballroom ini. Yup! Tepat! Agar konsentrasiku tidak buyar karena suara mendengkur beberapa temanku yang ‘cuek’ bukan main terhadap remeh-temeh acara sok sosial seperti ini. Ah! Hiburan kelas tinggi seperti ini yang aku inginkan! Sok elit memang manusia satu ini! Acara dibuka dengan, ah lagi-lagi anak-anak kecil lucu yang pandai bermain peran. Beberapa dari mereka ada yang menari, ya balet tentunya seperti yang terungkap di poster acara yang  aku lihat di depan mading asrama kami.
Ah manis sekali Belle di opera ini, Belle disini rupanya bukan hanya pandai bermain peran ia memegang double job sekaligus menjadi ballerina. Ekpresi saat ia menari, baru ini aku temukan ceria tanpa beban di sosok wajah dewasa. Badan, raut muka, semua perwujudan akan lakonnya benar-benar terasa nyata hidup. Ais! Aku ini! Itu sudah kewajiban seorang artis untuk berperan dengan baik Wildan! BERLEBIHAN!
*OPERA BERAKHIR*
‘Mereka akhirnya hidup bahagia selamanya’. Klise umum akhir cerita. Tapi entah mengapa aku menyukai pertujukan kali ini. Ekspresi Belle masih terngiang lekat mengganggu otak kaku ku.
“Hey! Berhenti!!! Halooo!!! Laki-laki berbaju kelabu! Tunggu sebentar!”. Ucap salah sumber suara memanggilku yang saat ini sedang berjalan kembali ke asrama. Segera setelah itu aku merespon panggilan itu dan menengok menuju asal sumber suara itu. Ia berlari dengan cukup cepat segera setelah aku menengok kearahnya. Belle.
 “Hey! Aku Arania, Kamu?,”  ucap Belle sambil tersengal kelelahan berlari.
“Aku ditunggu oleh yang lain. Bus rombongan akan meninggalkanku jika basa-basi ini harus terus berlanjut. Langsung saja. Ada perlu apa?” Ergh mengapa aku sok jual mahal gini!
“Uh, baiklah to the point man! Tolong tuliskan alamat lengkap panti rehabilitasimu di sticky note ini. Hihi”. Dengan sigap aku segera menuliskan alamat panti rehabilitasiku.
“Terima kasih to the point man,” ujar Belle, eh Arania maksudku. Ia segera berlalu, berlari sambil bersenda nada sesuai lontar irama nada yang ia dendangkan, menuju tujuan tempat yang ia inginkan. 
Aku pikir dia bukan anak kecil. Ia terlihat seumuran denganku. Ternyata masih ada orang seriang itu di babak dunia yang penuh liku ini.
***
Segala panjatan akan doaku... menanti sang damai akan babak baru, dalam sisi lain dari kehidupan dunia atau lingkar jurang penantian akan pertanggung jawaban hidup di dunia...
Pemeriksaan berkala, ya aku berharap kesembuhan penuh dan tak gentar melawan penyakit kurang ajar ini!. Hal seperti ini terus menerus aku lakukan karena aku sangat ingin sembuh dan kembali normal layaknya manusia lainnya. Bohong kalau hanya karena itu. Tujuanku melakukan ini karena... aku tidak tahu. Aku belum memikirkannya. Yang aku pikirkan hanyalah kesembuhanku. Ya.
“Aku paling senang kalau memeriksamu Wildan,” kata Dokter Sofyan sambil memeriksaku.
“Iewh, itu terdengar menjijikan jika diucapkan olehmu Dok, kalau yang ngomong itu Suster Sari baru deh aku meleleh Dok!”
“Hahaha kamu ini ada-ada saja bercandanya Dan,”
Suster Sari yang berada tepat disebelah Dokter Sofyan hanya tertawa kecil mendengar leluconku. Sepasang suami istri ini adalah relawan yang paling giat memeriksa tiap peserta rehabilitasi di panti ini. Mereka benar-benar melengkapi satu sama lain. Aku teramat kagum oleh mereka berdua. Sengaja mereka menjadikan masa tua mereka dengan menjadi relawan dan mempercayakan perusahaan mereka kepada anak angkatnya. Suster Sari dan Dokter Sofyan digariskan untuk tidak dapat memiliki momongan.
Sepasang dokter dan perawat sekaligus sepasang wirausahawan dan wirausahawati. Ah mereka benar-benar partner hidup sejati. Berusaha menjadi bermanfaat bagi siapapun. Mungkin itu jargon hidup mereka. Mereka memiliki dua orang anak angkat. Anak angkat pertamanya, Ervan ialah laki-laki yang saat ini sedang mengurus perusahaan mereka. Lalu anak angkat yang kedua adalah seorang perempuan Almira namanya, saat ini ia masih mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kairo mereka bilang anak perempuannya tiga tahun dibawahku. Almira adalah anak sholeha hadiah terindah dalam hidup mereka. Begitu katanya. Aku yakin Almira ini adalah anak yang begitu berbakti sampai tak pernah absen Dokter Sofyan dan Suster Sari menceritakan tentangnya.
“Mengapa kamu rajin sekali memeriksakan dirimu Wildan? Apa jangan-jangan karena kamu benar menyukai istriku ya?”
“Iya... Aku menyukai Suster Sari Doook...Ijinkan aku menyayanginya... Aku mohoooon..”
“Hiiiis! Bocah ini,” umpat Dokter Sofyan.
“Haduh kalian ini! Wildan, mengapa kamu ingin sembuh?” tanya Suster Sari tiba-tiba.
“Aku harus sembuh. Karena aku masih ingin hidup,”
“Hemh... Ya kamu harus hidup untuk memenuhi kewajibanmu”
“Kewajiban? Maksudnya apa Sus?”
“Ya... seperti yang rajin kamu lakukan, sholat lima waktu, mengaji dan lainnya,”
“Selain itu kamu harus hidup karena. Ada misi terselubung...” tambah dokter Sofyan.
“Misi?”
“Coba kamu pikirkan hal itu!”
“Engh, Huh. Oke!”
“Aku yakin kamu akan sembuh Dan, ” 
“Terima kasih Suster Sari-kuuuu,” Kataku sambil melirik pada Dokter Sofyan.
“Hergh! Kamu ini! Ini ada hadiah kecil untukmu, Aku lihat saat opera kemarin kamu begitu terpana dengan pertunjukan itu”
“Eh dua? Aku harus menontonnya dengan siapa Dok? Dengan Suster Sari?”
“Bocah ini benar-benar!”
“Kami tidak terlalu menyukai opera. Kami tidak mengerti akan hal seperti itu. Ini pemberian klien kerja kami. Ambilah dan masalah kamu harus menontonnya dengan siapa... itu urusanmu anak muda,”
“Hemmh, baiklah. Terima kasih untuk hari ini Dok, Sus,”
Aku menganggap mereka layaknya kedua orang tuaku. Ah Tuhan masih ingin membuatku merasakan memiliki kedua orang tua mungkin. Setelah aku mendapati penyakit ini Ayah dan Ibuku aku perintahkan untuk menjauh dariku. Ini karena aku tak ingin kedua orang yang paling kusayangi harus tertular penyakit hina ini. Aku menyuruh mereka untuk jangan pernah menjengukku. Aku tahu dalam hati kecil mereka, mereka juga takut akan tertular penyakit ini. Jadi lebih baik aku menuntaskan dulu bagian cerita hidupku, daripada aku mendapati mereka bernasib sama denganku. Pernah sekali mereka menengokku dan aku benar-benar geram akan hal itu. Tak sedikitpun aku menyambut jengukan itu. Walau begitu kami masih sering bercakap-cakap lewat telepon. Dan percayalah... mereka adalah dua orang yang paling sering aku sebut dalam panjatan doaku.
***
“Wildaaaan!”
Segera ku mencari sumber suara yang ternyata itu panggilan dari salah seorang temanku.
“Lu ye! Gabisa apa kalem dikit jadi orang? Manggil gue sambil lari-lari gitu lagi! Di taman pula. Lu pikir lu Shakh Rukh Khan? Terus gue Kajol nya gitu?,” ucapku ketus pada Ikhsan.
“Ssstt! Dan Gue serius ini! Gue mau bilang sesuatu sama lu,”
“Apaan lu? Kaga ah gue masih doyan cewek San!”
“Dan gue serius ini ah!”
“Lah kan gue jadi tambah ngeri,”
“Gue suka sama Nisa, Dan”
“Nisa? Nisa anak ketua yayasan?”
“Lu sinting bro! Kenapa bisa? Anak manja kaya gitu lu demenin?”
“Gue gatau Dan! Gue gatau! Mana bisa gue milih sama siapa gue mesti suka! Perasaan kaya gini tuh natural Dan, datang dengan sendirinya tanpa permisi! Gue mesti gimana kalo dia ternyata udah ngetok terus nyelonong aja tanpa assalamu’alaikum masuk ke hati gue?”
“Gue emang penulis, tapi praktek soal ginian gue nol besar San. Emang lu maunya gimana? Langsung ngelamar dia ngajak merit gitu?”
“Ah lu mah Dan, gue serius ini”
“Ya lu maunya gimana? Perasaan lu ini maunya muaranya kemana? Lah dia udah terlanjur masuk,  lu mau usir oke, mau lu suruh tinggal oke. Lah kan ini baru perasaan lu San, terus perasaan dia?”
“Sumpah gue bingung mesti gimana?”
“Bales San, lu masuk juga ke hati dia tanpa pamit, tunjukin lu juga bisa bales perbuatan ga sopan dia yang udah seenaknya nyelonong masuk ke hati lu,”
“Gue mesti sembuh. Entah kenapa gue yakin banget sama ini semua, Eh Dan gue mesti PDKT gitu? Mau dipecat dari panti gue, suka sama anak ketua yayasan”
“Nah itu resiko. Pokoknya lu cari celah, cari lewat jalan mana biar lu bisa masuk, siapin jebakan paling mantep abis itu buat ini jadi akhir yang bahagia”
“Tapi pake apa Dan? Gue ada kelebihan diri apa mau berani-beraninya ngarep bersanding sama dia?”
“Gila lu beneran serius ternyata. Lu tanya sendiri sama hati lu San, lu punya apa buat dia? Kalo emang lu gapunya apa-apa, buat dia mampu mencintai lu tanpa dunia”
Sesaat setelah jawabanku itu, Ikhsan berlari sambil berteriak “Nisa kurang ajar! Liat gue bakal bales perbuatan lu!” Ikhsan sepertinya sudah mendapatkan jawaban apa yang selanjutnya mesti dia lakukan agar Nisa dapat terjebak dalam lingkar cintanya. Aku memang penulis naskah, ya adalah beberapa naskahku yang sudah dibuatkan ftv ah tapi aku terlampau bodoh soal cinta.

***

“Yippie! Kita bertemu lagi to the point man!” Suara itu sontak membuatku terkejut, Arania. Ternyata dia benar-benara datang, tepukan sapanya di bahuku membuatku sedikit terbatuk. Sebab saat itu aku sedang makan siang di kantin.
“Aku duduk disini ya? Aku belum mengenal yang lain selain ibu ketua yayasan dan kamu hihhi”
“Eh aku juga belum kenal kamu sih, apa aku harus terus memanggilmu to the point man?” Sambung Arania lagi.
“Aku WIldan, Aku duluan ya Ran, ada yang harus kukerjakan”
“Hey Wildan aku mohon temani aku. Aku ga suka makan sendiri” Ucap Arania sambil menahan tanganku yang saat itu sudah berdiri untuk berjalan menuju ke tempat cuci piring. Oh tidak dia menangis?! Seisi kantin sontak memperhatikan tingkah kami. Ah mengapa dia menangis. Ini membuatku seakan-akan terlihat bahwa aku baru saja memutuskannya dalam suatu hubungan sepasang kekasih. Ais apa aku ini.
“Ayo cepat usap air matamu,” Kataku sambil memberikannya tisu.
Dengan sigap ia lekas mengusap air matanya lalu melempar senyum ‘khas’nya padaku. Segera ia memakan makan siang dengan lahap. Sekilas aku melihatnya, senyumannya yang khas memang cocok sekali dipadu padankan dengan mukanya yang engh, cantik. Dia sepertinya bukan orang Indonesia asli. Noni Belanda yang cukup ayu. Manis. Ya begitulah rupa Arania.
“Aku sudah kenyang Yeay! Wildan kamu disini pecandu atau... HIV dan temannya itu?”
aids, aku aids! Aku duluan”
“Uh orang ini!” kudengar Arania mengumpatku pelan selepas kepergianku yang terus berlalu.
***
“Wildaaaaaan!”
“Hey apa disini ada Wildan? Bu Dian bilang kamar Wildan disini, kok aku ga liat dia yah. Dimana Wildan? Oh iya kalian belum kenal aku ya? Uh Bu Dian belum sempat mengenalkanku pada kalian sih. Baiklah aku Arania, aku teman baru Wildan, apa kalian mengenalku? Aku adalah salah satu pemeran di opera yang tempo hari kalian lihat... Ingat aku? Ingat aku? Aku ballerina yang menjadi Belle itu loh... si cantik dan si buruk rupa, aku si cantik Belle... Ingat kan???”
Penghuni seisi kamarku sunyi tak mengerti harus bagaimana cara menanggapi Arania yang terus saja berbicara tanpa henti.
“Iya kamu memang cantik,” ucap Rendi sambil terpukau akan cantiknya Arania.
“Terima kasih... Hey Wildan Dimana?”
“Hay Arania. Wildan lagi di ruangan sebelah Ran. Biar aku panggilin sebentar,” kata Ikhsan memecah keheningan sihir pesona Arania.
“Tidak. Perutku sudah meminta jatah. Aku kelaparan. Biar aku yang menghampirinya. His dia jelas-jelas bisa mendengarku tapi malah masih sok dingin gini!”
“Wildaaaan! Kamu ini dipanggil bukannya menyahut malah asik depan laptop! Ayolah aku sudah lapar sekali!” kata Arania sambil datang menghampiriku.
“ Baiklah ayo”
“Eh semudah itu. Apa kamu sakit? Biasanya kamu begitu dingin dan keras kepala”
“Berani sekali kamu memojokan orang yang baru kamu kenal?”
“Haha sebentar aku angkat telpon dulu”
‘Iya aku akan makan, ini baru saja aku mendapatkan teman makan siangku, ah baiklah, eh bagaimana paper mu? Hemh Profesor sinting itu berani-beraninya membuat orang yang kusayangi  merana karena sebuah paper, hihi baiklah Han. Aku juga mencintaimu...’
“Ayo Dan” ajak Arania
Aku hanya menuruti jalannya seperti seekor anak ayam yang mengikuti induknya. Berjalan sambil memasukkan kedua tanganku ke kantong celana trainingku, sampai akhirnya Arania membalikkan badan dan menarik lenganku. Menggandengku untuk mengajak jalan beriringan. Bodohnya aku tak menolak hal konyol itu.
“Sebenarnya kamu kesini untuk apa? Menyusahkanku?” kataku memulai pembicaraan.
“Tidak. Aku kemarin bersih-bersih kaca beranda panti, ngebersihin tiap toilet panti, bantu-bantu pekerja kantin untuk mencuci piring, membantu Dokter Sofyan dan  Suster Sari memeriksa penghuni panti dan engh apa harus aku sebutkan semua? Itu terlalu banyak Wildan!”
“Oh, baiklah”
“Makanya tadi aku bilang kamu keras kepala itu karena Dokter Sofyan dan Suster Sari menceritakanku sedikit tentangmu. Kamu rajin memeriksakan dirimu tapi kamu malas sekali makan kan?  Makan itu hal paling membahagiakan dalam hidup. Aku suka sekali makan”
“Hanya karena susah makan, kamu tidak bisa menilaiku keras kepala begitu saja. Lihatlah badanmu kamu suka sekali makan tapi badanmu kurus kerempeng begitu Hahaha,” kcapku sambil tertawa datar.
“Ih ini memang sudah perawakan! Aku bisa apa hah? Dan tidak hanya itu sifat kepala batumu, kamu tidak mau berbagi kamar tidur bahkan kamar mandi juga. Kamu hanya mengijinkan Dokter Sofyan dan Suster Sari yang memeriksamu. Kamu tadinya juga tidak mau ikut serta dalam setiap agenda panti, dan... kamu... tidak mengijinkan kedua orangtuamu untuk datang  menengokmu”
Skak mat!. Aku hanya bisa menelan ludah mendengar semua pernyataan Arania. Hisss! Dokter Sofyan dan Suster Sari.
“Yeay kita sudah sampai. Aku pikir Bu Dian cukup kaya untuk membuatkan lift huhu lelahnya!” ujar Arania sambil melepas gandengan tangannya dan berlari menuju dapur kantin panti. Ya aku baru sadar kita selama perjalanan menuruni anak tangga untuk menuju kantin panti, kita berdua terus saja bergandengan tangan. Dan aku tidak mempersalahkan hal itu?.
“Eh Wildan kamu tunggu sini jangan kemana-mana. Tunggu aku sebentar. Jangan kemana-mana. Disini aja. Aku mohon,” kata Arania dengan nafas tersengal karena sebelumnya ia sudah dekat panti lalu berlari menghampiriku kembali untuk memohon hal ini. Belum sempat aku mengomentari ocehannya dia sudah berlari lagi menuju kantin. “Ah dia itu pelari? Pembantu rumah tangga? Seekor burung kakak tua? Atau ballerina sih?” kataku membatin.
---
“Wildan... dia dimana? Apa dia pergi kembali ke kamarnya? Lalu aku makan dengan siapaaa? Kenapa Wildan begitu jahat! Aku tidak suka makan sendiri. Aku benci makan sendirian. Kenapa Wildan setega ini!!!” ucap Arania sambil terduduk melipat tangan mengulum tangis yang suaranya cukup mengundang tanya seisi kantin.
Mendengar ocehan suaranya yang cukup kencang, aku segera berlari menuju ke meja kami.
“Ran, aku hanya ke toilet sebentar tadi berhentilah menangis. Ini memalukan Ran,”  kataku sambil memukul pundaknya pelan.
“Hiks Wildan! Aku pikir kamu...”
Arania berdiri menghujaniku dengan pelukannya. Aku hanya terdiam.
“Ayo kita makan,” ucap Arania sambil dengan lekas melepaskan pelukkannya.
“Engh ya... ayo” Aku masih terpaku sampai tersadar ternyata seisi kantin memperhatikan adegan demi adegan antara aku dan Arania. Tak kupedulikan hal itu aku hanya duduk menyambut undangan Arania yang sudah menyodorkan ku sepiring makan malam kami.
***
Kebiasaanku dengan Arania terus berangsur dengan baik sebagai pasangan partner di meja makan, eh dia memintaku untuk tidak memanggilnya selengkap itu deh. Dia memintaku untuk memanggilnya Aran saja. Perasaan Aran yang tidak ingin makan sendirian masih belum dapatku terjemahkan. Hal itu masih terus berlanjut, ketika didapatinya aku hilang dari meja makan ia langsung bersegera menangis. Pernah beberapa kali aku sengaja menghilang untuk sengaja melihatnya menangis karena kehilanganku yang menunggunya di meja makan tempat kami sering makan berdua. Setelah jika aku menjahilinya, ia segera membalasku dengan menimpuki aku dengan  kerupuk udang kesukaannya, atau bahkan mengambil jatah nasiku sebagai hukuman atas kejahilanku. Lelucon itu cukup sering kulakukan tapi bodohnya Aran tetap saja terus menangis ketika tidak didapatinya aku di meja makan kami.  Sampai pernah Bu Siti mengomeliku karena tangisan Aran sungguh memekik telinga dan mengganggu orang-orang lain yang sedang makan. Bagaimana tidak, ‘wong’ Aran menangis sambil memukul-mukul meja makan. Ah hal kekanak-kanakan itu benar-benar menyenangkan.
Aran bercerita banyak tentang dirinya. Aran bilang dia blasteran Solo - Den Haag, Belanda. Kini ia hanya memiliki seorang ayah yang saat ini sedang tinggal di Belanda. Ia mengatakan bahwa keluarganya setahun di Belanda setahun di Indonesia. Hanya saja Aran memang kuliah disini semester empat sastra indonesia di Universitas Gadjah Mada.
Aran sering menceritakan pengalaman-pengalan liburannya di berbagai tempat. Liburan tahun lalu ia mengikuti komunitas WHO Indonesia untuk memberikan penyuluhan hidup sehat di beberapa daerah pedalaman di Indonesia. Di tahun sebelum itu liburan Aran ialah berkeliling Eropa untuk ikut di beberapa pagelaran opera bersama Evgenia Obraztsova, ballerina kesukaannya “Aku beruntung sekali kan Wildan, aku bisa dalam satu pertunjukan dengan seorang Evgenia Obraztsova” begitu kata Aran. Masih banyak cerita liburan Aran yang menyenangkan. Aku tahu sekarang, Aran adalah seorang manusia yang diciptakan untuk menebar keriangan pada dunia. Mungkin targetnya sekarang adalah aku, tapi Aran bilang saat ini ia hanya ingin concern ke Indonesia saja, ia bilang Belanda tak serumit Indonesia, karena itu ia merasa tertantang hidup di Indonesia. Pernah kutanya apa cita-citanya ia hanya menjawab “Memberikan aroma harum pada dunia”. Kami sudah jalan hampir tiga bulan dengan kegiatan rutin kami, makan bersama, bersepeda tiap pagi, membersihkan halaman panti, mengajari Aran beberapa hal tentang Islam dan lainnya. Aran bilang ia memiliki niatan untuk menjadi seorang mualaf. Ia ingin berhijab malah jika bisa. Aku harap keinginan tulusnya itu dapat terwujud.
Sore ini aku menunggunya di kamarku, menunggunya untuk menjemputku. Seperti biasa... tapi ini sudah lewat dari waktu yang semestinya... Dimana dia, biasanya ia tepat waktu sekali. Aku berulang kali melihat kondisi ruang tv kamar ku, Ikhsan dan Rendi. Ya... yang kudapati hanya Ikhsan yang sedang bermain video game dan Rendi yang sedang asik streaming youtube melihat idol grup kesukaannya, JKT48.
“Coba lu tanya Suster Sari, Bu Siti atau si Nisa deh, Nisa sama si Aran kan sekamar noh,” usul Rendi kepadaku.
“Eh Nisa? Ya ampun gue lupa hari ini gue ada janji nemenin dia buat ngerjain tugas bikin software! Ayo Dan, sekalian ama gue tapi tunggu dulu, gue mesti ganteng lah kalo ketemu Nisa, tunggu sebentar ye,” kata Ikhsan menyahut.
“Cepet! Catet! Gak pake lama!” ujarku pada Ikhsan.
---
“Lah kan kamar Nisa ke kanan San?” kataku menyalahi arah jalan Ikhsan.
“Lu mau di D.O dari panti masuk ke area terlarang?”
“Eh iya, lah terus kita kemana dong?”
“Gue janjian sama Nisa di tukang es kelapa di depan panti, ayo lu ikut aja!”
“Ih kalo Aran ternyata nyamperin gue ke kamar gimana?”
“Lah kan tadi si Rendi bilang kalo dia bakal nelpon lu ntar kalo Aran ke kamar kita,”
Kamar di panti ini memang beraturan dan diatur dengan tata tertib. Area terlarang maksud kami ialah area kamar khusus pejabat panti dan relawan tamu. Hanya saja Aran sahabatku ini, engh... iya... hanya sahabat... tidak bukan itu aku ingin memulainya dengan lain hari ini. Kami berencana untuk menonton opera dengan memakai tiket pemberian Dokter Sofyan dan Suster Sari. Aku akan mengungkapkan semua rasaku hari ini. Semoga saja hal ini disambut dengan baik. Entah mengapa aku yakin Aran juga menyukaiku. Aku berani melakukan ini karena Dokter Sofyan dan Suster Sari bilang aku semakin sehat dan mungkin saja aku akan sembuh dalam beberapa bulan lagi. Bahkan selain itu yang membuatku makin yakin, seorang dokter tamu dari Singapura memastikan bahwa aku dapat pulih benar menjadi manusia normal layaknya sebelumnya. Aku yakin akan kebaikan Tuhan, setiap penyakit pasti ada obatnya. Aran adalah salah satu obat penyembuh sakitku. Aku harap semuanya demikian sesuai bayanganku...
“Hey Nisa!” Ucapku pada Nisa.
“Eh Wildan apa kabar?”
“Baik Nis, lu sendiri?”
“Baik Dan.. Engh tapi gue kayanya ga butuh penulis deh San buat tugas ini.
“Hahaha, si Wildan cuma mau nanyain si Aran, Nis?”
“Ohahah gue becanda Dan,”
“hehe iya Nis, becanda dengan tampang seserius itu?”
“Haha bener ya ternyata lu sesintif itu,”
“Nis Aran kemana sih?”
“Engh... Gue kurang tau Dan, lu tanya Dokter Sofyan aja deh mending”
“Gue tau lu boong,” . Entah kenapa perasaanku mulai tidak nyaman. Ada apa ini?
“Eh ayo-ayo kita duduk dulu, lu mau es kelapa Dan?” ucap Ikhsan menerka muka ku yang sudah tak tertahan ingin menghujani banyak tanya untuk  Nisa. Aku pun lekas menyadarkan diri
“Nis gue ngerti banget nih laga lu yang kaya gini tuh, ya berarti lu lagi boong coba jawab yang jujur Aran kemana,” kata Ikhsan membelaku memecah keheningan saat kami ia tinggali untuk memesan es kelapa.
Aku tak menggubris pembelaan Ikhsan, bergegas meninggalkan mereka berdua dan segera berangsur pergi sambil mengecek handphone barangkali ada panggilan atau pesan dari Rendi tentang Aran. Tetapi tak juga kudapati hal itu.
***
Satu bulan kemudian
Aku mohon ingkari janji itu demi perasaanku...
“Aku ingin ke Jogja Dok, aku ingin memeriksa apa Aran saat ini ada disana” Kataku saat Dokter Sofyan menyuntikkan jarum berisi cairan obat ‘langganan’ tubuhku.
“Ada hal yang ingin aku ceritakan kepadamu Dan” Ucap Dokter Sofyan yang kubalas dengan tatapan kebingungan.
“Aran sudah kembali ke Belanda menikahi kekasihnya, Farhan.
Aku hanya berkecamuk diam mendengar pernyataan kurang ajar itu. Jadi selama ini Han yang ia maksud adalah Farhan? Aku pikir itu hana atau hani atau honey panggilan sayang untuk Ayahnya.
“Aran ke panti ini untuk mengisi liburannya. Aran sangat menyayangimu. Aran bilang ada cahaya yang mestinya terang dalam dirimu. Ia memperhatikanmu bukan selama opera kala itu?. Aran memang sempat menggalaukan perasaanya kepadamu. Tapi, tetap saja ia bilang ini tidak benar. Terlebih disana kekasihnya setia menunggunya yang seringkali berkelana kemanapun. Di tiap liburan kuliahnya. Ini adalah liburan terakhirnya sebagai penggembara penebar aroma, ya begitulah ungkapan yang ia gambarkan pada dirinya. Ia sudah berjanji pada kekasihnya bahwa ini penggembaraan terakhirnya. Suaminya adalah seorang mahasiswa pertukaran yang tinggal di rumah Aran, saat ia masih SMP sampai SMA telah menaruh perasaan pada suaminya yang sekarang. Suaminya adalah seorang ilmuwan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang saat ini ditugaskan di Belanda.  
“Lalu bagaimana dengan kuliahnya?”
“Ia akan melanjutkannya di Belanda. Ia bilang akan datang mengunjungimu jika kamu sudah sadar betul akan aroma apa yang mesti kamu berikan pada dunia”
***
            Dokter Sofyan menunjukanku ponselnya yang disitu ada foto Aran dan ya... suaminya... Farhan. Syukurlah ternyata Aran benar-benar berhijab sekarang.
“Farhan adalah aroma pertama dalam kehidupan Aran. Kamu sempat menggalaukan perasaan Aran. Tapi ia orang yang menjunjung tinggi kesetiaan katanya. Aran sadar ia hanya sebatas mengagumimu yang begitu penuh warna dan begitu ingin sembuh, serta kuatnya dirimu menerima takdir pahit ini”
***
Inilah aroma yang telah kuberikan kepada dunia. Menghibur masyarakat dengan menanamkan beberapa manfaat di tiap serial televisi garapan dari cerita di tiap naskahku. Banyak orang yang menyenangi serial televisi dengan naskah buatanku. Aku tetap bertahan di perusahaan tempatku saat masih berpenyakit aids dulu. Banyak televisi swasta yang menawariku untuk bekerja sama dengannya. Tapi tidak aku yakin televisi swasta begitu menghamba para rating dan aku tidak menyukai itu. Lagipula memang penikmat jaringan televisi kabel hanya orang kalangan atas. Tapi banyak orang yang dapat menikmati karyaku lewat TVRI ya... perusahaanku mengijinkanku untuk melakukan hal itu. Aku ingin semua orang dapat menikmati aroma yang ingin aku tebar. Beberapa tahun bekerja bersama perusahaan tempatku mengabdi selama ini. Aku sempat dipromosikan menjadi CEO ah tidak aku tidak menerima hal ini karena aku yakin menjadi workaholic bukan yang diinginkannya... disampingku kini ada seorang wanita cerwet yang mengingatkanku untuk segera bergegas karena sudah waktunya. Aran benar-benar tak pernah berubah!. Begitupun si pengantin baru Ikhsan dan Nisa. Mereka benar-benar kelompok paduan suara yang apik! Mengomel tanpa henti menyuruhku bergegas memakai ini dan itu.
---
“Saya terima nikahnya Almira Rahayu binti Sofyan Bachri dengan mas kawin tersebut tunai,”
Alhamdulillah. Syukurlah. Kini wanita yang hanya dapat ku kagumi lewat sudut pandang orang ketiga yaitu lewat Dokter Sofyan dan Suster Sari kini telah sah menjadi istriku. Wanita sholeha ini adalah aroma paling terharum dalam hidupku. Dan saat ini  telah sah pula Dokter Sofyan dan Suster Sari menjadi ayah dan ibuku. Hanya saja dengan embel-embel ‘mertua’. 









0 komentar:

Posting Komentar