Aroma
Ah!
Syukurlah acara remeh-temeh kali ini bukan lagi paduan suara segerombolan tua
atau drama putri salju dan tujuh kurcaci yang dimainkan oleh sekelompok anak
kecil yang belum tahu getirnya kehidupan. Opera. Ya aku cukup tertarik dengan
acara remeh-temeh kali ini! Opera si Cantik dan Si Buruk Rupa. Terdengar
terlalu dongeng memang kisah ini, tapi entahlah aku menyukainya. Ketulusan.
Kisah ini mengangkat sisi moral tentang bagaimanapun objek cintamu, apapun
tentang cinta pasti kamu akan menjadi bodoh dibuatnya. Setelah kebodohan itu
maka akan datang ketulusan yang entah mengapa mekar begitu saja tanpa permisi
kala datang dan tanpa pamit ketika pergi, atau... karena memang sudah ‘Alur
Tuhan’? Hahaha repot betul aku ini! Eh! Balet! Opera dan balet? Berasa orang
elit betul kami mendapatkan hiburan macam ini. Ah! Kapan lagi aku dapet hiburan
kelas VVIP seperti ini! Kali ini ‘remeh-temeh’ sosial itu diadakan di Alice
Artpreneur. Berasa pengusaha dan penikmat seni kelas atas aku dapat berada di
tempat ini. Beruntungnya panti rehabilitasiku mendapatkan kesempatan seperti
ini. Ya ini bagiku, belum tentu bagi yang lain yang terlampau cuek bukan
kepalang. Yaa... terkadang aku menjadi salah seorang bagian dari si ‘cuek’ itu.
Tapi agenda kali ini, benar-benar membuatku antusias bukan main!. Entahlah
mengapa, mungkin karena aku rindu akan minatku yang telah lama harus mati
karena nasib berkata sedemikian itu.
Dulu
sebelum aku aku mendapati kutukan aids ini.
Aku adalah salah satu mahasiswa Institut Kesenian Jakarta. Aku mengambil
jurusan teater kala itu. Ya... Syukurlah sembari aku menjalani rehabilitasiku
ada salah satu stasiun jaringan televisi kabel yang mengontrakku untuk membuat
naskah untuk proyek serial tv yang tayang seminggu sekali. Aku awalnya hanya
seorang blogger yang menulis beberapa cerita di blog ku. Tapi karena ya
kehebatan relasi yang dimiliki ayah keduaku Dokter Sofyan yang mengenalkanku ke
stasiun televisi. Jadilah saat ini aku menjadi lebih ingin sembuh karena betapa
baiknya Allah kepadaku. Buktinya aku masih bisa terus berkarya sesuai passionku
walaupun bukan teater... Ah sungguh ini lebih dari cukup malah.
Dulu
saat kudapati vonis ini, kedua orang tuaku teramat terpukul, bahkan sempat
menyangka bahwa aku adalah seorang pecandu selain itu mereka pernah menyangka
aku pernah melakukan free sex. Memang
sempat beberapa undangan dari teman-temanku mengajakku untuk melakukan itu
semua. Jakarta memang keras. Tapi, sungguh aku tak sekalipun pernah menerima
apalagi mendatangi undangan mereka untuk bergabung dalam jerat lingkaran haram
itu.
Penyakit
ini bermula karena saat itu aku benar-benar sedang terburu-buru dan penampilanku
dipaksa mesti rapih karena aku akan melaksanakan sidang proposal skripsi. Tak
kupedulikan segalanya sampai akhirnya karena keteledoranku pisau cukur itu
melukaiku. Dan setelah ku telusuri dari
mana aku dapatkan penyakit ini, itu karena ada darah yang masih membekas di
pisau cukur Bayu.
Sungguh...
benar-benar tidak kusangka ternyata sahabat karibku, Bayu, jatuh pada jurang
metafora itu. Dia adalah panutanku. Segala bidang keorganisasian kampus ia
geluti, keluasan ilmu pengetahuannya, kebijaksanaannya dan ah pantas saja ia
jarang pulang ke kosan kami. Aku pikir memang ini karena sibuknya dia dalam
berbagai organisasi ini itu. Bodohnya aku tak menyadari kealpaannya. Dokter
memintaku untuk menelusuri apa yang pernah aku lakukan sampai aku kedapatan penyakit
ini.
Pertengkaran
hebat itu mengungkap semuanya, saat itu aku menyatakan bahwa aku terkena HIV ya
saat itu aku masih dalam tahap HIV, Bayu mengakui semuanya. Bayu benar-benar
kacau saat ku ungkapkan bahwa aku terkena HIV. Ia tak henti-hentinya meminta
maaf. Tapi apalah daya aku manusia biasa. Kumaki Bayu, kusesali mengapa aku mau
bersahabat dengannya. Aku benar-benar diluap amarah kala itu. Baru kusadari
bahwa Bayu memang sering mengingatkanku untuk jangan pernah memakai
barang-barangnya seperti misalnya piring, gelas, sendok, garpu, pisau cukur,
handuk dan lainnya. Aku kira itu karena ia adalah seorang perfeksionis atau
“jijik-an” maksudku. Ya... Aku mengetahui bahwa aids tidak akan tertular
karena itu semua.
Huh...
Kenyataan pahit ini memang tak kuasa kutelan mentah-mentah. Aku tahu hal ini
juga bukanlah yang diingikinkan Bayu. Baru setelah kematiannya ku sadari
mengapa Bayu menjadi seperti itu karena, ya alasan klasik... Broken Home.
Maafkan aku, Bay... Aku benar-benar tak dapat diandalkan sebagai seorang
sahabat. Padahal kamu teramat sering mendengar segalanya tentangku. Aku tahu
hal seperti itu memang susah sekali ditemukan jalan keluarnya. Tapi mengapa
mesti jebakan setan itu Bay? Narkoba memang memikat tapi sungguh kehidupan
bahagia yang sebenarnya lebih memikat dan menarik untuk dijalani. Untuk apa
bahagia sementara selagi kebahagiaan yang kekal akan kita dapatkan kelak? Kita
hanya perlu bersabar. Mencari segala amunisi apa yang diperlukan untuk
mendapatkan itu semua. Kuharap segala kebaikan menyertaimu Disana...
“Ayo
Wildan ini saatnya menikmati opera gratis!” Ucapku menyemangati diri.
Sengaja
aku duduk di barisan pertama di ballroom
ini. Yup! Tepat! Agar konsentrasiku tidak buyar karena suara mendengkur
beberapa temanku yang ‘cuek’ bukan main terhadap remeh-temeh acara sok sosial
seperti ini. Ah! Hiburan kelas tinggi seperti ini yang aku inginkan! Sok elit
memang manusia satu ini! Acara dibuka dengan, ah lagi-lagi anak-anak kecil lucu
yang pandai bermain peran. Beberapa dari mereka ada yang menari, ya balet tentunya
seperti yang terungkap di poster acara yang aku lihat di depan mading asrama kami.
Ah
manis sekali Belle di opera ini, Belle disini rupanya bukan hanya pandai
bermain peran ia memegang double job sekaligus menjadi ballerina. Ekpresi saat
ia menari, baru ini aku temukan ceria tanpa beban di sosok wajah dewasa. Badan,
raut muka, semua perwujudan akan lakonnya benar-benar terasa nyata hidup. Ais!
Aku ini! Itu sudah kewajiban seorang artis untuk berperan dengan baik Wildan!
BERLEBIHAN!
*OPERA
BERAKHIR*
‘Mereka
akhirnya hidup bahagia selamanya’. Klise umum akhir cerita. Tapi entah mengapa
aku menyukai pertujukan kali ini. Ekspresi Belle masih terngiang lekat
mengganggu otak kaku ku.
“Hey!
Berhenti!!! Halooo!!! Laki-laki berbaju kelabu! Tunggu sebentar!”. Ucap salah
sumber suara memanggilku yang saat ini sedang berjalan kembali ke asrama. Segera
setelah itu aku merespon panggilan itu dan menengok menuju asal sumber suara
itu. Ia berlari dengan cukup cepat segera setelah aku menengok kearahnya.
Belle.
“Hey! Aku Arania, Kamu?,” ucap Belle sambil tersengal kelelahan berlari.
“Aku
ditunggu oleh yang lain. Bus rombongan akan meninggalkanku jika basa-basi ini
harus terus berlanjut. Langsung saja. Ada perlu apa?” Ergh mengapa aku sok jual
mahal gini!
“Uh,
baiklah to the point man! Tolong tuliskan alamat lengkap panti rehabilitasimu
di sticky note ini. Hihi”. Dengan sigap aku segera menuliskan alamat panti rehabilitasiku.
“Terima
kasih to the point man,” ujar Belle, eh Arania maksudku. Ia segera berlalu,
berlari sambil bersenda nada sesuai lontar irama nada yang ia dendangkan,
menuju tujuan tempat yang ia inginkan.
Aku
pikir dia bukan anak kecil. Ia terlihat seumuran denganku. Ternyata
masih ada orang seriang itu di babak dunia yang penuh liku ini.
***
Segala
panjatan akan doaku... menanti sang damai akan babak baru, dalam sisi lain dari
kehidupan dunia atau lingkar jurang penantian akan pertanggung jawaban hidup di
dunia...
Pemeriksaan
berkala, ya aku berharap kesembuhan penuh dan tak gentar melawan penyakit
kurang ajar ini!. Hal seperti ini terus menerus aku lakukan karena aku sangat
ingin sembuh dan kembali normal layaknya manusia lainnya. Bohong kalau hanya
karena itu. Tujuanku melakukan ini karena... aku tidak tahu. Aku belum
memikirkannya. Yang aku pikirkan hanyalah kesembuhanku. Ya.
“Aku
paling senang kalau memeriksamu Wildan,” kata Dokter Sofyan sambil memeriksaku.
“Iewh,
itu terdengar menjijikan jika diucapkan olehmu Dok, kalau yang ngomong itu
Suster Sari baru deh aku meleleh Dok!”
“Hahaha
kamu ini ada-ada saja bercandanya Dan,”
Suster
Sari yang berada tepat disebelah Dokter Sofyan hanya tertawa kecil mendengar
leluconku. Sepasang suami istri ini adalah relawan yang paling giat memeriksa
tiap peserta rehabilitasi di panti ini. Mereka benar-benar melengkapi satu sama
lain. Aku teramat kagum oleh mereka berdua. Sengaja mereka menjadikan masa tua
mereka dengan menjadi relawan dan mempercayakan perusahaan mereka kepada anak
angkatnya. Suster Sari dan Dokter Sofyan digariskan untuk tidak dapat memiliki
momongan.
Sepasang
dokter dan perawat sekaligus sepasang wirausahawan dan wirausahawati. Ah mereka
benar-benar partner hidup sejati. Berusaha menjadi bermanfaat bagi siapapun.
Mungkin itu jargon hidup mereka. Mereka memiliki dua orang anak angkat. Anak
angkat pertamanya, Ervan ialah laki-laki yang saat ini sedang mengurus
perusahaan mereka. Lalu anak angkat yang kedua adalah seorang perempuan Almira
namanya, saat ini ia masih mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi
di Kairo mereka bilang anak perempuannya tiga tahun dibawahku. Almira adalah
anak sholeha hadiah terindah dalam hidup mereka. Begitu katanya. Aku yakin
Almira ini adalah anak yang begitu berbakti sampai tak pernah absen Dokter
Sofyan dan Suster Sari menceritakan tentangnya.
“Mengapa
kamu rajin sekali memeriksakan dirimu Wildan? Apa jangan-jangan karena kamu
benar menyukai istriku ya?”
“Iya...
Aku menyukai Suster Sari Doook...Ijinkan aku menyayanginya... Aku mohoooon..”
“Hiiiis!
Bocah ini,” umpat Dokter Sofyan.
“Haduh
kalian ini! Wildan, mengapa kamu ingin sembuh?” tanya Suster Sari tiba-tiba.
“Aku
harus sembuh. Karena aku masih ingin hidup,”
“Hemh...
Ya kamu harus hidup untuk memenuhi kewajibanmu”
“Kewajiban?
Maksudnya apa Sus?”
“Ya...
seperti yang rajin kamu lakukan, sholat lima waktu, mengaji dan lainnya,”
“Selain
itu kamu harus hidup karena. Ada misi terselubung...” tambah dokter Sofyan.
“Misi?”
“Coba
kamu pikirkan hal itu!”
“Engh,
Huh. Oke!”
“Aku
yakin kamu akan sembuh Dan, ”
“Terima
kasih Suster Sari-kuuuu,” Kataku sambil melirik pada Dokter Sofyan.
“Hergh!
Kamu ini! Ini ada hadiah kecil untukmu, Aku lihat saat opera kemarin kamu
begitu terpana dengan pertunjukan itu”
“Eh
dua? Aku harus menontonnya dengan siapa Dok? Dengan Suster Sari?”
“Bocah ini benar-benar!”
“Kami
tidak terlalu menyukai opera. Kami tidak mengerti akan hal seperti itu. Ini
pemberian klien kerja kami. Ambilah dan masalah kamu harus menontonnya dengan
siapa... itu urusanmu anak muda,”
“Hemmh,
baiklah. Terima kasih untuk hari ini Dok, Sus,”
Aku
menganggap mereka layaknya kedua orang tuaku. Ah Tuhan masih ingin membuatku
merasakan memiliki kedua orang tua mungkin. Setelah aku mendapati penyakit
ini Ayah dan Ibuku aku perintahkan untuk menjauh dariku. Ini karena aku tak
ingin kedua orang yang paling kusayangi harus tertular penyakit hina ini. Aku
menyuruh mereka untuk jangan pernah menjengukku. Aku tahu dalam hati kecil
mereka, mereka juga takut akan tertular penyakit ini. Jadi lebih baik aku
menuntaskan dulu bagian cerita hidupku, daripada aku mendapati mereka
bernasib sama denganku. Pernah sekali mereka menengokku dan aku benar-benar
geram akan hal itu. Tak sedikitpun aku menyambut jengukan itu. Walau begitu
kami masih sering bercakap-cakap lewat telepon. Dan percayalah... mereka adalah
dua orang yang paling sering aku sebut dalam panjatan doaku.
***
“Wildaaaan!”
Segera
ku mencari sumber suara yang ternyata itu panggilan dari salah seorang temanku.
“Lu
ye! Gabisa apa kalem dikit jadi orang? Manggil gue sambil lari-lari gitu lagi!
Di taman pula. Lu pikir lu Shakh Rukh Khan? Terus gue Kajol nya gitu?,” ucapku ketus pada Ikhsan.
“Ssstt!
Dan Gue serius ini! Gue mau bilang sesuatu sama lu,”
“Apaan
lu? Kaga ah gue masih doyan cewek San!”
“Dan
gue serius ini ah!”
“Lah
kan gue jadi tambah ngeri,”
“Gue
suka sama Nisa, Dan”
“Nisa?
Nisa anak ketua yayasan?”
“Lu
sinting bro! Kenapa bisa? Anak manja kaya gitu lu demenin?”
“Gue
gatau Dan! Gue gatau! Mana bisa gue milih sama siapa gue mesti suka! Perasaan
kaya gini tuh natural Dan, datang dengan sendirinya tanpa permisi! Gue mesti
gimana kalo dia ternyata udah ngetok terus nyelonong aja tanpa assalamu’alaikum
masuk ke hati gue?”
“Gue emang penulis, tapi praktek soal ginian gue nol besar San. Emang lu maunya
gimana? Langsung ngelamar dia ngajak merit gitu?”
“Ah
lu mah Dan, gue serius ini”
“Ya
lu maunya gimana? Perasaan lu ini maunya muaranya kemana? Lah dia udah
terlanjur masuk, lu mau usir oke, mau lu
suruh tinggal oke. Lah kan ini baru perasaan lu San, terus perasaan dia?”
“Sumpah
gue bingung mesti gimana?”
“Bales
San, lu masuk juga ke hati dia tanpa pamit, tunjukin lu juga bisa bales
perbuatan ga sopan dia yang udah seenaknya nyelonong masuk ke hati lu,”
“Gue
mesti sembuh. Entah kenapa gue yakin banget sama ini semua, Eh Dan gue mesti
PDKT gitu? Mau dipecat dari panti gue, suka sama anak ketua yayasan”
“Nah
itu resiko. Pokoknya lu cari celah, cari lewat jalan mana biar lu bisa masuk,
siapin jebakan paling mantep abis itu buat ini jadi akhir yang bahagia”
“Tapi
pake apa Dan? Gue ada kelebihan diri apa mau berani-beraninya ngarep bersanding
sama dia?”
“Gila
lu beneran serius ternyata. Lu tanya sendiri sama hati lu San, lu punya apa
buat dia? Kalo emang lu gapunya apa-apa, buat dia mampu mencintai lu tanpa
dunia”
Sesaat setelah jawabanku itu, Ikhsan berlari sambil
berteriak “Nisa kurang ajar! Liat gue bakal bales perbuatan lu!” Ikhsan
sepertinya sudah mendapatkan jawaban apa yang selanjutnya mesti dia lakukan
agar Nisa dapat terjebak dalam lingkar cintanya. Aku memang penulis naskah, ya
adalah beberapa naskahku yang sudah dibuatkan ftv ah tapi aku terlampau bodoh
soal cinta.
***
“Yippie!
Kita bertemu lagi to the point man!” Suara itu sontak membuatku terkejut, Arania. Ternyata dia benar-benara datang, tepukan sapanya di bahuku membuatku sedikit terbatuk. Sebab saat itu aku sedang makan siang di kantin.
“Aku
duduk disini ya? Aku belum mengenal yang lain selain ibu ketua yayasan dan kamu
hihhi”
“Eh
aku juga belum kenal kamu sih, apa aku harus terus memanggilmu to the point
man?” Sambung Arania lagi.
“Aku WIldan, Aku duluan ya Ran, ada yang harus kukerjakan”
“Hey
Wildan aku mohon temani aku. Aku ga suka makan sendiri” Ucap Arania sambil
menahan tanganku yang saat itu sudah berdiri untuk berjalan menuju ke tempat cuci
piring. Oh tidak dia menangis?! Seisi kantin sontak memperhatikan tingkah kami.
Ah mengapa dia menangis. Ini membuatku seakan-akan terlihat bahwa aku baru saja
memutuskannya dalam suatu hubungan sepasang kekasih. Ais apa aku ini.
“Ayo
cepat usap air matamu,” Kataku sambil memberikannya tisu.
Dengan
sigap ia lekas mengusap air matanya lalu melempar senyum ‘khas’nya padaku.
Segera ia memakan makan siang dengan lahap. Sekilas aku melihatnya, senyumannya
yang khas memang cocok sekali dipadu padankan dengan mukanya yang engh, cantik.
Dia sepertinya bukan orang Indonesia asli. Noni Belanda yang cukup ayu. Manis. Ya
begitulah rupa Arania.
“Aku
sudah kenyang Yeay! Wildan kamu disini pecandu atau... HIV dan temannya
itu?”
“aids, aku aids! Aku duluan”
“Uh
orang ini!” kudengar Arania mengumpatku pelan selepas kepergianku yang terus
berlalu.
***
“Wildaaaaaan!”
“Hey
apa disini ada Wildan? Bu Dian bilang kamar Wildan disini, kok aku ga liat dia
yah. Dimana Wildan? Oh iya kalian belum kenal aku ya? Uh Bu Dian belum sempat
mengenalkanku pada kalian sih. Baiklah aku Arania, aku teman baru Wildan, apa
kalian mengenalku? Aku adalah salah satu pemeran di opera yang tempo hari
kalian lihat... Ingat aku? Ingat aku? Aku ballerina yang menjadi Belle itu
loh... si cantik dan si buruk rupa, aku si cantik Belle... Ingat kan???”
Penghuni
seisi kamarku sunyi tak mengerti harus bagaimana cara menanggapi Arania yang
terus saja berbicara tanpa henti.
“Iya kamu memang cantik,” ucap Rendi sambil terpukau akan cantiknya Arania.
“Terima
kasih... Hey Wildan Dimana?”
“Hay
Arania. Wildan lagi di ruangan sebelah Ran. Biar aku panggilin sebentar,” kata Ikhsan memecah keheningan sihir pesona Arania.
“Tidak.
Perutku sudah meminta jatah. Aku kelaparan. Biar aku yang menghampirinya. His
dia jelas-jelas bisa mendengarku tapi malah masih sok dingin gini!”
“Wildaaaan!
Kamu ini dipanggil bukannya menyahut malah asik depan laptop! Ayolah aku sudah
lapar sekali!” kata Arania sambil datang menghampiriku.
“
Baiklah ayo”
“Eh
semudah itu. Apa kamu sakit? Biasanya kamu begitu dingin dan keras kepala”
“Berani
sekali kamu memojokan orang yang baru kamu kenal?”
“Haha
sebentar aku angkat telpon dulu”
‘Iya aku akan makan, ini baru saja
aku mendapatkan teman makan siangku, ah baiklah, eh bagaimana paper mu? Hemh
Profesor sinting itu berani-beraninya membuat orang yang kusayangi merana karena sebuah paper, hihi baiklah Han.
Aku juga mencintaimu...’
“Ayo
Dan” ajak Arania
Aku
hanya menuruti jalannya seperti seekor anak ayam yang mengikuti induknya.
Berjalan sambil memasukkan kedua tanganku ke kantong celana trainingku, sampai akhirnya Arania
membalikkan badan dan menarik lenganku. Menggandengku untuk mengajak jalan beriringan.
Bodohnya aku tak menolak hal konyol itu.
“Sebenarnya
kamu kesini untuk apa? Menyusahkanku?” kataku memulai pembicaraan.
“Tidak.
Aku kemarin bersih-bersih kaca beranda panti, ngebersihin tiap toilet panti,
bantu-bantu pekerja kantin untuk mencuci piring, membantu Dokter Sofyan
dan Suster Sari memeriksa penghuni panti
dan engh apa harus aku sebutkan semua? Itu terlalu banyak Wildan!”
“Oh,
baiklah”
“Makanya
tadi aku bilang kamu keras kepala itu karena Dokter Sofyan dan Suster Sari
menceritakanku sedikit tentangmu. Kamu rajin memeriksakan dirimu tapi kamu
malas sekali makan kan? Makan itu hal paling membahagiakan dalam
hidup. Aku suka sekali makan”
“Hanya
karena susah makan, kamu tidak bisa menilaiku keras kepala
begitu saja. Lihatlah badanmu kamu suka sekali makan tapi badanmu kurus
kerempeng begitu Hahaha,” kcapku sambil tertawa datar.
“Ih
ini memang sudah perawakan! Aku bisa apa hah? Dan tidak hanya itu sifat kepala
batumu, kamu tidak mau berbagi kamar tidur bahkan kamar mandi juga. Kamu hanya mengijinkan Dokter Sofyan dan Suster
Sari yang memeriksamu. Kamu tadinya juga tidak mau ikut serta dalam setiap agenda
panti, dan... kamu... tidak mengijinkan kedua orangtuamu untuk datang menengokmu”
Skak mat!. Aku
hanya bisa menelan ludah mendengar semua pernyataan Arania. Hisss! Dokter
Sofyan dan Suster Sari.
“Yeay
kita sudah sampai. Aku pikir Bu Dian cukup kaya untuk membuatkan lift huhu lelahnya!” ujar Arania sambil
melepas gandengan tangannya dan berlari menuju dapur kantin panti. Ya aku baru
sadar kita selama perjalanan menuruni anak tangga untuk menuju kantin panti, kita berdua terus saja bergandengan tangan. Dan aku tidak mempersalahkan hal
itu?.
“Eh
Wildan kamu tunggu sini jangan kemana-mana. Tunggu aku sebentar. Jangan
kemana-mana. Disini aja. Aku mohon,” kata Arania dengan nafas tersengal karena sebelumnya ia sudah dekat panti lalu berlari menghampiriku kembali untuk memohon
hal ini. Belum sempat aku mengomentari ocehannya dia sudah berlari lagi menuju
kantin. “Ah dia itu pelari? Pembantu rumah tangga? Seekor burung kakak tua?
Atau ballerina sih?” kataku membatin.
---
“Wildan...
dia dimana? Apa dia pergi kembali ke kamarnya? Lalu aku makan dengan siapaaa?
Kenapa Wildan begitu jahat! Aku tidak suka makan sendiri. Aku benci makan sendirian.
Kenapa Wildan setega ini!!!” ucap Arania sambil terduduk melipat tangan
mengulum tangis yang suaranya cukup mengundang tanya seisi kantin.
Mendengar ocehan suaranya yang cukup kencang, aku segera berlari menuju ke meja kami.
Mendengar ocehan suaranya yang cukup kencang, aku segera berlari menuju ke meja kami.
“Ran,
aku hanya ke toilet sebentar tadi berhentilah menangis. Ini memalukan Ran,” kataku sambil memukul pundaknya pelan.
“Hiks
Wildan! Aku pikir kamu...”
Arania
berdiri menghujaniku dengan pelukannya. Aku hanya terdiam.
“Ayo
kita makan,” ucap Arania sambil dengan lekas melepaskan pelukkannya.
“Engh
ya... ayo” Aku masih terpaku sampai tersadar ternyata seisi kantin
memperhatikan adegan demi adegan antara aku dan Arania. Tak kupedulikan hal itu
aku hanya duduk menyambut undangan Arania yang sudah menyodorkan ku sepiring
makan malam kami.
***
Kebiasaanku
dengan Arania terus berangsur dengan baik sebagai pasangan partner di meja
makan, eh dia memintaku untuk tidak memanggilnya selengkap itu deh. Dia
memintaku untuk memanggilnya Aran saja. Perasaan Aran yang tidak ingin makan
sendirian masih belum dapatku terjemahkan. Hal itu masih terus berlanjut,
ketika didapatinya aku hilang dari meja makan ia langsung bersegera menangis.
Pernah beberapa kali aku sengaja menghilang untuk sengaja melihatnya menangis
karena kehilanganku yang menunggunya di meja makan tempat kami sering makan
berdua. Setelah jika aku menjahilinya, ia segera membalasku dengan menimpuki
aku dengan kerupuk udang kesukaannya, atau bahkan mengambil jatah
nasiku sebagai hukuman atas kejahilanku. Lelucon itu cukup sering kulakukan tapi
bodohnya Aran tetap saja terus menangis ketika tidak didapatinya aku di meja
makan kami. Sampai pernah Bu Siti
mengomeliku karena tangisan Aran sungguh memekik telinga dan mengganggu
orang-orang lain yang sedang makan. Bagaimana tidak, ‘wong’ Aran menangis
sambil memukul-mukul meja makan. Ah hal kekanak-kanakan itu benar-benar
menyenangkan.
Aran
bercerita banyak tentang dirinya. Aran bilang dia blasteran Solo - Den Haag,
Belanda. Kini ia hanya memiliki seorang ayah yang saat ini sedang tinggal di
Belanda. Ia mengatakan bahwa keluarganya setahun di Belanda setahun di
Indonesia. Hanya saja Aran memang kuliah disini semester empat sastra indonesia
di Universitas Gadjah Mada.
Aran sering menceritakan pengalaman-pengalan liburannya di berbagai tempat. Liburan tahun lalu ia mengikuti
komunitas WHO Indonesia untuk memberikan penyuluhan hidup sehat di beberapa
daerah pedalaman di Indonesia. Di tahun sebelum itu liburan Aran ialah
berkeliling Eropa untuk ikut di beberapa pagelaran opera bersama Evgenia
Obraztsova, ballerina kesukaannya “Aku beruntung sekali kan Wildan, aku bisa
dalam satu pertunjukan dengan seorang Evgenia Obraztsova” begitu kata Aran.
Masih banyak cerita liburan Aran yang menyenangkan. Aku tahu sekarang, Aran
adalah seorang manusia yang diciptakan untuk menebar keriangan pada dunia.
Mungkin targetnya sekarang adalah aku, tapi Aran bilang saat ini ia hanya ingin
concern ke Indonesia saja, ia bilang
Belanda tak serumit Indonesia, karena itu ia merasa tertantang hidup di
Indonesia. Pernah kutanya apa cita-citanya ia hanya menjawab “Memberikan aroma harum pada dunia”. Kami sudah jalan hampir tiga bulan dengan kegiatan rutin kami,
makan bersama, bersepeda tiap pagi, membersihkan halaman panti, mengajari Aran
beberapa hal tentang Islam dan lainnya. Aran bilang ia memiliki niatan untuk
menjadi seorang mualaf. Ia ingin berhijab malah jika bisa. Aku harap keinginan
tulusnya itu dapat terwujud.
Sore
ini aku menunggunya di kamarku, menunggunya untuk menjemputku. Seperti biasa...
tapi ini sudah lewat dari waktu yang semestinya... Dimana dia, biasanya ia
tepat waktu sekali. Aku berulang kali melihat kondisi ruang tv kamar ku, Ikhsan
dan Rendi. Ya... yang kudapati hanya Ikhsan yang sedang bermain video game dan
Rendi yang sedang asik streaming youtube melihat idol grup kesukaannya, JKT48.
“Coba
lu tanya Suster Sari, Bu Siti atau si Nisa deh, Nisa sama si Aran kan sekamar
noh,” usul Rendi kepadaku.
“Eh
Nisa? Ya ampun gue lupa hari ini gue ada janji nemenin dia buat ngerjain tugas
bikin software! Ayo Dan, sekalian ama gue tapi tunggu dulu, gue mesti ganteng
lah kalo ketemu Nisa, tunggu sebentar ye,” kata Ikhsan menyahut.
“Cepet!
Catet! Gak pake lama!” ujarku pada Ikhsan.
---
“Lah
kan kamar Nisa ke kanan San?” kataku menyalahi arah jalan Ikhsan.
“Lu
mau di D.O dari panti masuk ke area terlarang?”
“Eh
iya, lah terus kita kemana dong?”
“Gue
janjian sama Nisa di tukang es kelapa di depan panti, ayo lu ikut aja!”
“Ih
kalo Aran ternyata nyamperin gue ke kamar gimana?”
“Lah
kan tadi si Rendi bilang kalo dia bakal nelpon lu ntar kalo Aran ke kamar kita,”
Kamar
di panti ini memang beraturan dan diatur dengan tata tertib. Area terlarang
maksud kami ialah area kamar khusus pejabat panti dan relawan tamu. Hanya saja
Aran sahabatku ini, engh... iya... hanya sahabat... tidak bukan itu aku ingin
memulainya dengan lain hari ini. Kami berencana untuk menonton opera dengan
memakai tiket pemberian Dokter Sofyan dan Suster Sari. Aku akan mengungkapkan
semua rasaku hari ini. Semoga saja hal ini disambut dengan baik. Entah mengapa
aku yakin Aran juga menyukaiku. Aku berani melakukan ini karena Dokter Sofyan
dan Suster Sari bilang aku semakin sehat dan mungkin saja aku akan sembuh dalam
beberapa bulan lagi. Bahkan selain itu yang membuatku makin yakin, seorang
dokter tamu dari Singapura memastikan bahwa aku dapat pulih benar menjadi
manusia normal layaknya sebelumnya. Aku yakin akan kebaikan Tuhan, setiap
penyakit pasti ada obatnya. Aran adalah salah satu obat penyembuh sakitku. Aku
harap semuanya demikian sesuai bayanganku...
“Hey
Nisa!” Ucapku pada Nisa.
“Eh
Wildan apa kabar?”
“Baik
Nis, lu sendiri?”
“Baik
Dan.. Engh tapi gue kayanya ga butuh penulis deh San buat tugas ini.
“Hahaha,
si Wildan cuma mau nanyain si Aran, Nis?”
“Ohahah
gue becanda Dan,”
“hehe
iya Nis, becanda dengan tampang seserius itu?”
“Haha
bener ya ternyata lu sesintif itu,”
“Nis
Aran kemana sih?”
“Engh...
Gue kurang tau Dan, lu tanya Dokter Sofyan aja deh mending”
“Gue
tau lu boong,” . Entah kenapa perasaanku mulai tidak nyaman. Ada apa ini?
“Eh
ayo-ayo kita duduk dulu, lu mau es kelapa Dan?” ucap Ikhsan menerka muka ku
yang sudah tak tertahan ingin menghujani banyak tanya untuk Nisa. Aku pun lekas menyadarkan diri
“Nis
gue ngerti banget nih laga lu yang kaya gini tuh, ya berarti lu lagi boong coba
jawab yang jujur Aran kemana,” kata Ikhsan membelaku memecah keheningan saat
kami ia tinggali untuk memesan es kelapa.
Aku
tak menggubris pembelaan Ikhsan, bergegas meninggalkan mereka berdua dan segera
berangsur pergi sambil mengecek handphone barangkali ada panggilan atau pesan
dari Rendi tentang Aran. Tetapi tak juga kudapati hal itu.
***
Satu bulan kemudian
Aku mohon ingkari janji itu demi
perasaanku...
“Aku
ingin ke Jogja Dok, aku ingin memeriksa apa Aran saat ini ada disana” Kataku
saat Dokter Sofyan menyuntikkan jarum berisi cairan obat ‘langganan’ tubuhku.
“Ada
hal yang ingin aku ceritakan kepadamu Dan” Ucap Dokter Sofyan yang kubalas
dengan tatapan kebingungan.
“Aran
sudah kembali ke Belanda menikahi kekasihnya, Farhan.
Aku
hanya berkecamuk diam mendengar pernyataan kurang ajar itu. Jadi selama ini Han
yang ia maksud adalah Farhan? Aku pikir itu hana atau hani atau honey panggilan
sayang untuk Ayahnya.
“Aran
ke panti ini untuk mengisi liburannya. Aran sangat menyayangimu. Aran bilang
ada cahaya yang mestinya terang dalam dirimu. Ia memperhatikanmu bukan selama
opera kala itu?. Aran memang sempat menggalaukan perasaanya kepadamu. Tapi,
tetap saja ia bilang ini tidak benar. Terlebih disana kekasihnya setia
menunggunya yang seringkali berkelana kemanapun. Di tiap liburan kuliahnya. Ini
adalah liburan terakhirnya sebagai penggembara penebar aroma, ya begitulah
ungkapan yang ia gambarkan pada dirinya. Ia sudah berjanji pada kekasihnya
bahwa ini penggembaraan terakhirnya. Suaminya adalah seorang mahasiswa
pertukaran yang tinggal di rumah Aran, saat ia masih SMP sampai SMA telah
menaruh perasaan pada suaminya yang sekarang. Suaminya adalah seorang ilmuwan
LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang saat ini ditugaskan di Belanda.
“Lalu
bagaimana dengan kuliahnya?”
“Ia
akan melanjutkannya di Belanda. Ia bilang akan datang mengunjungimu jika kamu
sudah sadar betul akan aroma apa yang mesti kamu berikan pada dunia”
***
Dokter
Sofyan menunjukanku ponselnya yang disitu ada foto Aran dan ya... suaminya...
Farhan. Syukurlah ternyata Aran benar-benar berhijab sekarang.
“Farhan
adalah aroma pertama dalam kehidupan Aran. Kamu sempat menggalaukan perasaan
Aran. Tapi ia orang yang menjunjung tinggi kesetiaan katanya. Aran sadar ia
hanya sebatas mengagumimu yang begitu penuh warna dan begitu ingin sembuh, serta kuatnya dirimu menerima takdir pahit ini”
***
Inilah
aroma yang telah kuberikan kepada dunia. Menghibur masyarakat dengan menanamkan
beberapa manfaat di tiap serial televisi garapan dari cerita di tiap naskahku.
Banyak orang yang menyenangi serial televisi dengan naskah buatanku. Aku tetap
bertahan di perusahaan tempatku saat masih berpenyakit aids dulu. Banyak televisi swasta yang menawariku untuk bekerja
sama dengannya. Tapi tidak aku yakin televisi swasta begitu menghamba para rating
dan aku tidak menyukai itu. Lagipula memang penikmat jaringan televisi kabel
hanya orang kalangan atas. Tapi banyak orang yang dapat menikmati karyaku lewat
TVRI ya... perusahaanku mengijinkanku untuk melakukan hal itu. Aku ingin semua
orang dapat menikmati aroma yang ingin aku tebar. Beberapa tahun bekerja
bersama perusahaan tempatku mengabdi selama ini. Aku sempat dipromosikan
menjadi CEO ah tidak aku tidak menerima hal ini karena aku yakin menjadi
workaholic bukan yang diinginkannya... disampingku kini ada seorang wanita
cerwet yang mengingatkanku untuk segera bergegas karena sudah waktunya. Aran benar-benar tak pernah berubah!. Begitupun si pengantin baru Ikhsan
dan Nisa. Mereka benar-benar kelompok paduan suara yang apik! Mengomel tanpa henti
menyuruhku bergegas memakai ini dan itu.
---
“Saya
terima nikahnya Almira Rahayu binti Sofyan Bachri dengan mas kawin tersebut
tunai,”
Alhamdulillah.
Syukurlah. Kini wanita yang hanya dapat ku kagumi lewat sudut pandang orang
ketiga yaitu lewat Dokter Sofyan dan Suster Sari kini telah sah menjadi istriku.
Wanita sholeha ini adalah aroma paling terharum dalam hidupku. Dan saat
ini telah sah pula Dokter Sofyan dan
Suster Sari menjadi ayah dan ibuku. Hanya saja dengan embel-embel ‘mertua’.
0 komentar:
Posting Komentar